Soepardjo’s Blog

November 10, 2008

Menurunnya Jumlah Anak-anak dan Meningkatnya Jumlah Usia Lanjut di Jepang

Filed under: Serba-serbi Jepang — Tags: , , , , — soepardjo @ 7:35 am

Masalah yang sedang dihadapi Jepang dewasa ini adalah Shoushi Koureika. Yang disebut Shoushi Koureika adalah kondisi berkurangnya anak-anak dan bertambahnya jumlah usia lanjut. Berkurangnya jumlah anak-anak di Jepang sebagai akibat peran kaum perempuan di dalam masyarakat Jepang yang semakin baik. Disamping itu kaum perempuan merasa kesulitan untuk memilih kodratnya sebagai ibu rumah tangga dengan tugas mendidik anak atau berkarier. Mereka tampaknya lebih memililih bekerja sehingga mereka tidak mau melahirkan bahkan semakain banyak kaum perempuan yang tidak mau menikah. Dewasa ini di jepang, jumlah kaum perempuan yang seumurhidupnya tidak ingin melahirkan rata-rata 1.34%.

Kemudian masalah usia lanjut, usia rata-rata orang Jepang untuk laki-laki 79 tahun sedangkan perempuan 85.8 tahun. Sehingga jumlah usia rata-rata orang Jepang 82.4 tahun. Dewasa ini rara-rata tertinggi usia di dunia diduduki oleh Jepang. Untuk memberikan jaminan kepada orang-orang usia lanjut agar mereka panjang usia, seperti jaminan kesehatan, kesejahtraan, perawatan, dan lain-lainnya, diperlukan biaya yang sangat besar. Ini menjadi tanggung jawab generasi yang masih bekerja. Pada tahun 2000, untuk memberikan jaminan pada 1 orang usia lanjut diperlukan 4 orang bekerja aktif. Kemungkinan pada tahun 2025, untuk memberikan jaminan pada 1 orang usia lanjut diperlukan 2 oarang bekerja aktif. Dari sini dapat dilihat adanya kontradiksi antara semakin menurunnya jumlah anak-anak yang akan menyebabkan semakin berkurangnya penduduk bekerja dengan semakin meningkatnya angka usia lanjut yang memerlukan bantuan jaminan sosial. Jelaslah kalau Jepang menjadi pusing tujuh keliling.

Untuk mencari jalan keluar dari masalah ini Jepang memerlukan banyak kawan. Jepang mulai bermesraan dengan Indonesia dengan membuat perjanjian EPA (Economic Partnership Agreement), yang subtansi kesepakatannya yaitu Jepang akan menerima tenaga kerja perawat dari Indonesia. Di dalamnya dijelaskan bahwa dalam kurun waktu 2 tahun, Jepang akan menerima 400 orang tenaga pereawat medis, dan 600 orang tenaga perawat untuk usia lanjut (elderly nurse). Dalam kurun waktu 2 tahun, Jepang akan menerima 1000 orang perawat dari Indonesia. Pada tahap awal sudah dilakukan pendaftaran untuk memenuhi kebutuhan 200 orang tenaga perawat medis dan 300 orang tenaga perawat untuk usia lanjut. Syarat untuk dapat diterima sebagai perawat di Jepang cukup sulit. Untuk tenaga perawat medis, harus memiliki sertifikat perawat (lulus dari Akademi Perawat atau memiliki ijazah dari Fakultas Ilmu Perawat yang ada di Universitas). Mereka juga harus memiliki surat keterangan telah berpengalaman bekerja sebagai perawat selama 2 tahun lebih. Sedangkan untuk tenaga perawat usia lanjut mereka harus memiliki ijazah Sekolah Perawat atau Fakultas Ilmu Perawat yang ada di sebuah Universitas. Mereka juga harus memiliki sertifikat telah mengikuti training sebagai perawat untuk usia lanjut selama 6 bulan yang diterbitkan oleh pemerintah dan semua pembiayaan kegiatan tersebut ditanggung oleh pihak Jepang. Setelah datang di Jepang mereka akan mengikuti training bahasa Jepang, keperawatan, atau keperawatan untuk usia lanjut. Setelah itu baru di salurlan kerumah sakit atau panti-panti Jompo sebagai asisten perawat atau home help. Setelah itu mereka diharuskan mengikuti ujian sertifikasi perawat yang diselengarakan pemerintah Jepang. Kalau mereka lulus, mereka dapat bekerja sebagai perawat medis atau perawat usia lanjut. Waktu untuk mendapatkan sertifikat untuk perawat medis 3 tahun dan perawat usia lanjut 4 tahun. Akan tetapi bagi perawat usia lanjut yang akan mengikuti ujian sertifikasi negara, karena diwajibkan punya pengalaman bekerja sebagai perawat usia lanjut selama 3 tahun, maka mereka hanya boleh mengikuti ujian 1 kali. Sedangkan bagi perawat medis boleh mengikuti ujian sampai 3 kali. Bila mereka gagal mendapatkan sertifikat selama berada di Jepang, mereka harus kembali ke Indonesia.

Tentang Kondisi Perawat Medis di Jepang

Menurut survei Departemen Kesehatan dan Tenaga Kerja, kebutuhan perawat medis pada tahun 2007 mencapai 1.340.000 orang. Dari jumlah tersebut dapat dipenuhi sebanyak 1.300.000 orang Untuk memenuhi quota kebutuhan perawat medis di Jepang masih dibutuhkan 40.000 orang perawat. mantan perawat medis (yang bekerja sebagai perawat secara tersembunyi) yang melepas pekerjaannya karena harus mengurusi anaknya berjumlah 55.000 orang lebih. Menurut survei Asosiasi Perawat Jepang, perawat yang bekerja secara tersembunyi tidak dapat kembali bekerja. Alasannya adalah mereka enggan bekerja sif pada malam hari. Selain itu, karena banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan seorang perawat sehingga melebihi kapasitas dan kapabilitasnya. Alasan lain adalah karena belum berkembangnya sistem penitipan anak. Mereka merasa sulit untuk memilih pekerjaan atau mengurusi anak. Walaupun mau kembali bekerja, mereka merasa kesulitan mengikuti perkembangan tekhnologi dunia medis yang semakin canggih.

Dari survei yang telah dilakukan, dengan memberikan angket kepada 552 rumah sakit, 80% merespon positif terhadap rencana mendatangkan tenaga perawat medis dari negara asing. Dari 80% tersebut 37.6 % atau 196 rumah sakit, mengatakan siap menampung. Sedangkan 61.3% tidak ingin menampung karena alasan khawatir terhadap kemampuan berkomunikasi antara perawat dengan pasiennya. Sedangkan 55.7% tidak ingin menampung karena alasan perlu waktu dan tenaga untuk membimbing para perawat. Sisanya sekitar 46.4% tidak ingin menampung karena alasan tidak tahu level perawat dari negara asal.

Tentang Kondisi Perawat untuk Usia lanjut di Jepang

Syarat pekerjaanya cukup keras, kebanyakan bekerja di malam hari seperti membantu memandikan pasien. Oarang yang berhenti dari perawat orang jompo biasanya disebabkan depresi, sakit pinggang dan lain-lain. Mereka merasa tidak sanggup lagi bekerja.Yang lebih fatal lagi, bekerja menjadi perawat orang jompo menyebabkan meningkatnya persentase perceraian di Jepang (20.2%).

Jumlah perawat untuk usia lanjut dewasa ini ada 1.100.000 orang. Dengan meningkatnya jumlah usia lanjut yang sangat pesat, dalam kurun waktu 10 tahun mendatang diperkirakan keperluan perawat untuk usia lanjut akan bertambah hingga 400.000 sampai 600.000 orang.

Pengiriman perawat untuk usia lanjut dan perawat medis, dari jumlah 226 orang terdiri dari perawat medis untuk 47 sejumlah 112 orang dan perawat usia lanjut untuk 55 institusi sejumlah 114 orang. Sejak tanggal 1-5 Agustus tahum ini telah dilaksanakan orientasi di Jakarta, kemudian taggal 7 Agustus telah diberangkatkan ke jepang. Pendaftaran berikutnya dilaksanakan melalui ujian pada bulan Januari tahun depan. Pada bulan April rencanyanya telah dijadualkan diterima di Jepang. Sedangkan Jumlah peserta akan ditentukan setelah ada kesepakatan dengan pemerintah Indonesia.

Dewasa ini, karena terdapat orang yang bekerja dan mendidik anak, maka dirasakan perlu adanya bantuan pendidikan anak dari Perusahaan. Di Jepang, sampai anak masuk SD ada tunjangan pendidikan anak sebesar 300.000 yen/tahun. Tunjangan tersebut pemnggunaannya tidak dibatasi. Uang tersebut dapat digunakan membayar baby siter atau membayar ongkos taxi bila ada keperluan mendadak ke TK. Tunjangan melahirkan dan tunjangan pendidikan anak sebesar 400.000 yen. Karyawan juga dapat mengatur sendiri jam kerja kapan mulai dan kapan berakhir melalui sistem kerja. Dengan sistem ini bila hanya 1 menit saja seseorang berada di perusahaan berarti Ia harus dinyatakan masuk perusahaan. Ada juga perusahaan yang menyediakan jasa penitipan anak untuk karyawannya. Tujuannya adalah mempertahankan karyawan yang memiliki prestasi baik agar tidak keluar disamping membantu memelihara pendidikan anaknya.

Kemudian, Jepang juga sedang menghadapi krisis kekurangan dokter. Terutama dokter anak dan dokter kandungan. Ada pendapat bahwa kekurangan dokter anak merupakan ancaman yang serius. Dokter anak waktunya sangat terikat. Mereka banyak mendapatkan panggilan darurat di tengah malam. Terutama aturan-aturan praktis di tempat bekerja dokter anak semakin bertambah dan menyebabkan tanggung jawab yang harus dipikul menjadi bertambah pula. Banyak terjadi di Jepang, rumah sakit kecil menolak pasien anak-anak dan dirujukkan ke rumah sakit yang lebih besar. Kondisi kekurangan dokter anak seperti ini secara pshikologis sangat berpengaruh pada ketenangan dan harapan para ibu dalam melahirkan dan mendidik anak-anaknya. Tidak mustahil pula berdampak besar terhadap kondisi kurangnya anak-anak di Jepang.

Kalau kita memikirkan masyarakat usia lanjut di Jepang, penerimaan perawat medis atau pun perawat usia lanjut dari luar negeri dirasakan sangat mendesak. Bahkan penerimaan tersebut secara kuantitas perlu ditingkatkan. Terlepas dari itu, kehadiran perawat dari Indonesia yang cantik-cantik, sudah pasti akan memberikan motivasi bagi para pasien orang Jepang untuk lebih cepat sembuh.

Advertisements

Blog at WordPress.com.