Soepardjo’s Blog

November 4, 2008

Untuk Direnungkan

Filed under: Foklor Jepang — Tags: , , — soepardjo @ 7:59 am

TIP MENUJU KEBERHASILAN ALA JEPANG

Cerita berikut adalah gambaran cara berpikir seseorang yang berambisi untuk sukses dalam hidupnya. Cara ini umumnya disebut teori ”Warashibe Choujya” atau dapat dikatakan teori cara pandang seseorang terhadap sesuatu hal.

Penting bagi kita untuk mengubah secara akurat mengenai persepsi kita akan nilai sesuatu hal. Karena jika tidak mampu mengubah cara pandang tersebut, maka sampai kapanpun kita tidak akan pernah maju.

Dalam kesempatan ini saya akan memperkenalkan sebuah cerita foklor Jepang yang berjudul ”Warashibe Choujya”.

Di Jepang, cerita rakyat yang berjudul Warashibe Choujya sangat terkenal baik di kalangan anak-anak atau pun orang dewasa. Ini adalah cerita seorang pemuda yang sukses dalam hidupnya setelah memungut sebatang jerami di pinggir jalan. Kemudian pemuda itu menangkap se-ekor lalat buah yang kemudian diikatkannya di ujung jerami yang ia pungut. Setelah itu, dia menukar lalat buah denan jeruk, lalu menukar jeruk dengan kain sutera, menukar kain sutera dengan kuda, dan terakhir ia menukar kudanya dengan istana sehingga ia pun menjadi seorang saudagar kaya raya. Suatu cerita yang berakhir dengan kebahagiaan.

Jika kita melihat dengan cara pandang yang biasa, ini adalah cerita kesuksesan seorang pemuda yang dengan gampangnya menukar barang yang ia miliki dengan benda berharga, kemudian akhirnya menjadi kaya raya. Tetapi, marilah kita merenung sejenak membayangkan seorang pemuda dan para pemilik jeruk, kain sutra, kuda dan istana. Mengapa mereka mau menukar benda benda miliknya dengan benda yang harganya lebih rendah?

Sebenarnya, rendahnya nilai sesuatu bergantung pada sudut pandang terhadap benda tersebut. Kita melihat dari sisi si pemuda, lebah tidak lebih penting dari jeruk. Tetapi jika kita melihat dari sisi seorang anak yang menginginkan sebuah mainan, lebah lebih penting dari pada jeruk. Sama keadaannya jika kita memandang dari sisi orang yang kehausan, jeruk lebih penting dari pada kain sutra, dan kain sutera lebih peting dari pada kuda tak berdaya, kuda lebih penting dari pada istana, dst. Di sini, telah berlaku hukum relatifitas suatu harga, sehingga terjadilah persamaan cara pandang. Persamaan cara pandang ini jika kita gunakan/terapkan dalam kehidupan sehari hari dan dalam dunia bisnis, kita pasti akan kayan raya (berhasil).

BAGAIMANA MENCAPAI SUKSES ?

Untuk memperoleh sukses, kita dapat memulai dengan mengupulkan sukses-sukses kecil. Jangan lalai membuat perencanaan. Perencaanan penting untuk menentukan arah yang akan dicapai. Misalnya;

Si X pada hari libur besok bermaksud akan memancing ikan kakap merah.

Untuk memancing ikan kakap, sebaiknya menggunakan kapal nelayan dari pada memancing sambil duduk di atas batu karang. Kapal nelayan berangkat pukul 6 pagi dari salah satu pelabuhan. Agar dapat naik kapal nelayan tersebut, si X harus berangkat dari rumah paling lambat pukul 5 pagi.

Untuk dapat berangkat dari rumah pukul 5 pagi, dan paling lambat Ia juga harus bangun pukul 4 pagi.

”Hah! pukul 4…!. Berarti, malam ini tidak bisa bergadang dan harus tidur lebih cepat dari seperti biasanya.”

Bagaimana kawan ? Cerita ini adalah suatu gambaran bahwa untuk mencapai tujuan yang paling utama, kita harus melihat secara utuh seluruh unsur yang mendukung ketercapaian tujuan tersebut.

Kegagalan mencapai tujuan utama sangat berhubungan erat dengan kondidi kita saat sekarang dan yang lalu (lampau). Tindakan apa yang harus dilakukan pada saat sekarang agar mencapai tujuan di masa depan, harus dipraktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal ini dapat kita coba dalam rencana kehidupan kita sehari-hari.

Jika tidak keburu naik kapal nelayan karena waktu keberangkatan ke pelabuhan terlambat, berarti kita hanya dapat memancing ikan dari dinding batu karang. Jika memancing ikan dari tempat seperti itu, kecil harapan kita untuk mendapatkan ikan kapap sebagai tujuan utama memancing, bahkan tidaklah heran kalau kita tidak mendapatkan ikan sama-sekali.

CERITA RAKYAT JEPANG “WARASHIBE CHOUJYA”

Pada zaman dahulu kala, di suatu tempat, tinggallah seorang laki-laki yang jujur tetapi selalu jauh dari keberuntungan. Sejak pagi hari hingga larut malam Ia bekerja dengan tekun. Tetapi tetap miskin dan tidak kunjung mendapat keberuntungan.

Pada suatu hari, sebagai usaha terakhirnya, lelaki itu tanpa makan dan minum, berdo”a kepada Dewa keberuntungan.

Kemudian, saat hari mulai gelap, Dewa keberuntungan muncul di hadapannya dan berkata; ”Bergulinglah pada saat engkau ke luar dari kuil ini, dan ambillah sebuah benda, kemudian bawalah pergi benda teresebut ke arah barat”. Tentu saja lelaki itu mematuhi perkataan sang Dewa. Saat hendak ke luar dari kuil, Ia pun menjatuhkan diri dan berguling-guling, kemudian menangkap sesuatu yang ternyata sebatang jerami. Dia merasa jerami itu tidak akan ada gunanya tetapi Ia tetap berjalan ke arah barat membawa jerami itu. Kemudian se-ekor lalat buah terbang menghampirinya. Lelaki itu menangkap lalat tersebut dan mengikatnya diujung jerami. Ia melanjutkan perjalanannya lagi. Ketika Ia tiba di kota, tiba-tiba ada seorang bayi berhenti menangis saat melihat lalat buah yang terikat di ujung jerami yang Ia bawa. Melihat bayi itu begitu gembira, maka lelaki itu pun memberikan jeraminya ke pada bayi tersebut. Sebagai gantinya lelaki itu memperoleh tiga buah jeruk dari ibu sang bayi.

Lelaki itu melanjutkan lagi perjalanannya ke arah barat dengan tetap membawa ketiga buah jeruknya. Tidak lama kemudian dia melihat seorang perempuan yang sedang sekarat karena kehausan. Lelaki itu pun memberikan jeruk ke padanya. Setelah makan jeruk keadaan perempuan itu membaik. Sebagai gantinya lelaki itu menerima kain sutera yang sangat cantik dari perempuan tersebut.

Lelaki itu melanjutkan lagi perjalanannya ke arah barat denan membawa kain suteranya yang ia perolah sebagai penggati jeruk. Tidak lama kemudian dia bertemu seorang samurai menuntun kudanya yang sedang sakit. Saat melihat sutera yang indah yang dibawa lelaki itu, samurai berkata bahwa Ia ingin menukar sutera itu dengan kudanya yang sakit. Samurai tadi melanjutkan perjalanannya ke arah timur membawa kain sutera, sedangkan lelaki itu merawat kudanya sepanjang malam, dan saat menjelang pagi kuda tersebut sehat kembali.

Lelaki itu melanjutkan lagi perjalanannya ke arah barat membawa kudanya. Tibalah Ia di kota tempat para saudagar berkumpul. Seorang saudagar kaya tertarik saat melihat kuda milik lelaki itu. Lelaki itu diundang ke rumah sang saudagar kaya tersebut. Anak perempuannya datang membawakan teh untuk sang saudagar kaya dan lelaki itu. Ternyata, Dia adalah perempuan yang pernah diberi jeruk oleh lelaki itu. Sang saudagar terkesan akan pertemuan yang menakjubkan ini dan terketuk hatinya oleh kebaikan hati sang pemuda. Ia pun memutuskan untuk menikahkan anak perempuannya dengan lelaki itu.

Seperti yang dikatakan oleh dewa keberuntungan, lelaki itu bisa menjadi kaya dengan satu batang jerami. Selama hidup ini tidak ada hal yang sederhana sekalipun yang dapat dilakukannya dengan sebatang jerami. Penduduk desa menamakan kisah ini dengan nama “Warashibe Choujya” (Saudagar Jerami).

Advertisements

Blog at WordPress.com.