Soepardjo’s Blog

November 10, 2008

Manusia Banyak Bicara VS Manusia Tidak Mau Bicara

Filed under: Kiat Pandai Berbicara — soepardjo @ 10:12 am

Di zaman demokrasi ini, ”bicara” menjadi bagian dari demokrasi itu sendiri. Baik di tempat kerja, di suatu perkumpulan, atau di tempat rapat,  orang berselisih karena ”bicara”. Rupanya berbicara sudah menjadi bagian performance seseorang. Orang yang tidak mampu berbicara di depan khalayak ramai jangan harap lolos menjadi calon anggota dewan dari suatu partai politik. Memang, dibandingkan masa lalu, dewasa ini hak berbicara relatif bebas. Artinya orang lebih bebas menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya. Coba perhatikan, kita sering melihat tayangan TV yang menyiarkan acara diskusi atau debat untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Bahkan yang bukan permasalahanpun diperdebatkan hanya untuk memanfaatkan kebebasan berbicara.

 

Di balik kenyataan tersebut di atas, akhir-akhir ini dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat keadaan sebaliknya. Semakin banyak orang yang tidak mau bicara, bermuka judes, bahkan untuk mengucapkan kata-kata “salam” yang sederhana sekalipun tampak enggan. Di rapat-rapat, atau pertemuan-pertemuan mereka berbicara banyak, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, mereka tampak enggan menjawab salam atau memberi salam yang pendek. Tampaknya keramahan antar individu menjadi kurang harmonis. Lagi pula  semakin banyak orang yang tertular penyakit AIDS (Angkuh, Iri, Dengki, dan Sombong). Penyakit yang sangat berbahaya dan susah disembuhkan.

 

Beberapa waktu yang lalu saya melakukan perjalanan dinas ke kota kembang. Sengaja saya menggunakan KA Turangga. KA Turangga tersebut rupanya dicarter oleh beberapa rombongan. Saya mendapat tempat duduk paling belakang di sebuah gerbong KA tersebut. ”Tidak apa deh.., toh paling selama perjalanan tidur”. Benar juga setelah saya mencari posisi enak, saya tertidur nyenyak. Satu jam kemudian, terasa ada benda keras di pangkuan saya. Saya dibuatnya kaget, dan terbangun gelagapan. Saya perhatikan ternyata sebuah baki untuk makan yang disodorkan oleh seorang pramugari KA tersebut. Herannya baki tersebut hanya berisi sebuah pisang kecil, selembar tishu kecil, dan sebungkus kerupuk kecil. Semua memang serba kecil. Tidak lama berselang, datang pramugari yang tadi membawa baki tersebut. Kini Ia menenteng termos nasi dan centong penyiduk nasinya. lagi-lagi, rupanya Ia sedang membagikan nasi kepada tiap penumpang. Yang tidak habis pikir,  Ia tidak berbicara apapun. Ia hanya menyodorkan nasi goreng yang diciduknya dari dalam termos nasi  ke dalam baki setiap penumpang. Melihat kondisi seperti itu, selera makan menjadi tidak enak, dan akhirnya sibaki saya masukkan ke bawah kursi dan tidur lagi.

Di tempat belanja pun demikian, SPG yang cantik-cantik menawarkan barang yang dijaganya dengan ragu-ragu. Ada juga SPG yang hanya mentelengi pengunjung di tempat perbebelanjaan tersebut. Mereka tidak segera menanyakan apa yang bisa dilakukan agar para pembeli dapat belanja dengan nyaman. Heran… akhir-akhir ini semakain banyak orang yang enggan berbicara. Malah lebih banyak orang yang nggremeng sendiri, tertawa sendiri. Kalau ditanya kenapa Ia tertawa sendiri?. ”saya teringat sms yang baru saya terima”, Jawabya. E,… alaa..gara-gara sms ta!. Yang lebih perlu dikasihani adalah orang yang kesepian dalam keramaian. Maksudnya dalam keramaian ia asyik sms-an. Tidak lagi menghiraukan orang-orang disekitarnya. Kalau yang satu ini sudah tidak menghargai lagi pergaulan. Bagai mana menurut Anda..?

Advertisements

3 Comments »

  1. Kalau menurut saya pak (boleh kan pak berpendapat?) kalo kita flashback lagi ke jaman dimana HP, Laptop, iPod, MP3 (bahkan MP6) blom ada, keramahan hubungan antar individu masih dapat terlihat dengan jelas.
    (Saya merindukan masa-masa dulu dimana semua masih terlihat sederhana dan bersahaja)
    Konteks keramahan seharus na dilihat siapa, dimana, mengapa & kapan.

    Misal na… (Jaman sekarang) kalo saya berada disuatu tempat umum, dan ada orang asing yang berusaha menyapa saya, saya akan membalas sapaan na tapi tidak berniat untuk melanjutkan kearah komunikasi (berbicara) lebih jauh dengan orang asing tersebut. Bukan karena malas berbicara, tapi apa tujuan na…….

    Lain lagi dengan pramugari, spg, costumer service, front office etc, jenis pekerjaan mereka (seharus na) menuntut mereka untuk bersikap ramah.
    Jadi kalo mereka melayani kita sebagai costumer dengan tidak baik (lebih memilih diam) itu berarti mereka tidak menghargai kita, diri mereka & pekerjaan mereka sendiri.

    Hehe.. saya juga kadang suka asyik sms ditengah keramaian pak, sms mas Joni dan itu saya lakukan karena saya ingin berbicara (komunikasi) dengan mas Joni, bukan tidak menghargai pergaulan, karena pergaulan akan terus berjalan…..

    Regards,
    Astrid

    Comment by Astrid — November 19, 2008 @ 2:32 am

  2. (just drop by to jot some comments – mempraktekkan asas ‘zaman demokrasi’)..

    Yang menarik pada posting diatas adalah:
    ‘ Yang lebih perlu dikasihani adalah orang yang kesepian dalam keramaian. Maksudnya dalam keramaian ia asyik sms-an. Tidak lagi menghiraukan orang-orang disekitarnya.’

    Tidak bisa dipungkiri, setiap orang sedikit banyak pasti pernah berada diposisi ‘Yang lebih perlu dikasihani adalah orang yang kesepian dalam keramaian’ = Ber sms Ria pada saat disekitar mereka banyak orang yang sedang berusaha berinteraksi (dengannya).

    Tapi bukan berarti, kegiatan mengirim/menerima sms dikategorikan sebagai ‘tidak menghargai pergaulan’ ataupun ‘enggan berbicara’. Tentunya situasi yang dialami setiap orang bervariasi. Mungkin, sms-an yang sedang dilakukannya memang penting, atau interaksi yang ditawarkan orang2 disekitarnya tidak signifikan.

    Bisa jadi, ketidaknyamanan penulis akibat tidak ramahnya SPG atau pramugari KA juga dialami oleh banyak orang.

    [Terlepas dari negara ber zaman demokrasi atau tidak, Bahan tulisan ini mengingatkan saya saat pertamakali menetap dalam waktu yang agak lama di surabaya, sidoarjo dan sekitarnya (previously, saya menghabiskan waktu tinggal di Malang). Yang begitu terasa saat berada di surabaya (dan jalan2 ke pusat perbelanjaan) adalah minimnya ‘senyum’, mulai dari penjaga parkir, kasir, security dsb.
    Di Malang (yang sangat kecil bandingannya dengan Surabaya), Hawa dingin mungkin memaksa masyarakatnya bersikap hangat, bahkan setiap sopir angkot selalu bilang ‘terimakasih’ ketika memberikan kembalian pada penumpang dan keramahan-yang-tidak-dibuat2 ini tidak terjadi ketika saya naik angkot di Surabaya. Itu cuma contoh kecil.
    But it might be some kind of cultural shock!]

    Being realized or not, Untuk menjadi manusia yang banyak bicara sekaligus manusia yang tidak mau bicara (sesuai dengan konteks dan situasinya) memang bukan perkara mudah. Pengaruh lingkungan, pendidikan, tekhnologi, agama sangat berperan penting dalam hal ini.
    sehingga untuk memberi label suatu individu untuk men-generalisasikan komunitas saya rasa bukan hal yang bijak.
    Menurut saya, untuk menghargai pergaulan dan interaksi dengan orang2 disekitar adalah dengan memulainya dari diri sendiri. Saya percaya, setiap hal yang kita alami adalah reaksi timbal balik.

    Vika.

    Comment by Chey — November 19, 2008 @ 4:08 am

  3. Menurut saya proses seseorang untuk memulai suatu komunikasi terhadap lawanya tergantung situasi dan kondisi, dan juga siapa lawan yang kita ajak untuk berkomunikasi.

    Kita hidup dalam masyarakat yang majemuk, dimana bermacam-macam sifat, karakter dan watak manusia ditemukan. Tidak semua orang engan berbicara begitu juga sebaliknya.

    saya kurang setuju dengan mengasihani orang yang kesepian dalam keramaian. Karena saya pernah melakukan hal tersebut.

    [pengalaman pribadi] Saat saya bersama kakak sedang berbelanja di pasar. Saya asyik chatting menggunakan ponsel di tengah keramain. Dan hal ini menurut saya wajar, karena saya tidak perlu berkomunikasi dengan orang sekitar, karena pada dasarnya saya tidak melakukan transaksi jual beli, saya hanya mengantar kakak saja, dan untuk mengusir kebosanan tadi saya mencoba untuk berkomunikasi dengan cara saya sendiri, yaitu komunikasi lewat chatting yang mana lebih menarik karena sudah kenal meraka dari pada brkomunikasi dengan orang-orang disekitar kita yang belum dikenalnya.

    Jadi intinya kita kembalikan pada diri kita sendiri, kapan saatnya kita untuk berbicara dan kapan saatnya kita untuk diam.

    Jadilah dirimu sendiri alias Be Your Self.

    Sekian terimakasih.

    Comment by arqu3fiq — November 23, 2008 @ 9:41 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: