Soepardjo’s Blog

October 28, 2008

Komunikasi Interkultural dalam Pendidikan Bahasa Jepang

Filed under: Makalah — Tags: , , , , — soepardjo @ 10:08 am

KOMUNIKASI INTERKULTURAL

DALAM PENDIDIKAN BAHASA JEPANG

Oleh : Djodjok Soepardjo

Abstrak

Pada hakekatnya tujuan akhir pendidikan bahasa Jepang adalah pembelajar mampu berbicara dalam bahasa Jepang, mampu memahami kalimat yang ditulis dalam bahasa Jepang, dan mampu mengekpresikan dengan benar isi komunikasi yang ingin disampaikan kepada lawan bicara baik secara tertulis ataupun lisan. Artinya, pembelajar diharapkan menguasai 4 kompetensi berbahasa secara integritas yaitu; membaca, menulis, mendengar, dan berbicara dalam bahasa Jepang. Tetapi; seiring dengan perkembangan pendekatan pembelajaran bahasa asing, pendekatan pembelajaran bahasa Jepang sebaiknya juga diarahkan pada pendekatan 5 C (Communication, Culture, Conections, Compharisons, Communities) Dengan begitu, kompetensi komunikasi yang integritas sangat mungkin akan dikuasai oleh pembelajar bahasa Jepang.

Pendahuluan

Baik disadari maupun tidak, sering kali kita mengucapkan kata budaya, culture. Akan tetapi, bila dimintai penjelasan tentang definisi kata tersebut, sedikit sekali orang yang tahu dengan baik.

Kata budaya, dapat dijelaskan dari dua sudut pandang. Yang pertama, budaya dapat dijelaskan dari sudut pandang antropologi budaya, dan yang kedua dari sudut pandang psikologi. Artinya, budaya dapat dijelaskan melalui sebuah sistem dan bagaimana hubungannya dengan pribadi seseorang.

Definisi budaya yang dikaitkan dengan prinsip komunikasi interkultural tidak termasuk di dalam keduanya. Seperti dikatakan Watanabe (1995), definisi budaya yang dikaitkan dengan prinsip komunikasi interkultural akan berbeda tergantung dari sudut mana melihatnya. Istilah budaya yang dikaitkan dengan prinsip komunikasi interkultural, dapat dilihat secara mikro atau secara makro. Bahkan menurut Watanabe(1995), dapat pula dilihat dari keduanya secara dinamis.

Untuk menjelaskan definisi komunikasi interkultural, perlu dijelaskan lebih dahulu apa yang disebut “budaya” kaitannya dengan komunikasi interkultutral. Berhubungan dengan orang lain, pemahaman terhadap nilai-nilai, cara pandang terhadap waktu, cara berkomunikasi, cara bekerja, hal-hal yang kasat mata seperti halnya udara yang ada di sekitar kita, itu semua merupakan hakekat dari kebudayaan.

Tampaknya sangat sederhana, tetapi penulis berharap apa yang dipaparkan berikut dapat menggugah kesadaran kita. Kadang kita merasa heran, ketika dihadapkan pada kenyataan, dan perasaan kita mengatakan, betapa mencoloknya perbedaan antara diri kita dengan orang lain. Haruslah disadari, bahwa semua hal yang demikian, pada dasarnya dipengaruhi oleh kebudayaan, bahkan itulah hakekat kebudayaan. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa, komunikasi interkultural didasarkan pada pertemuan antara perseorangan.

Kebanyakan orang beranggapan, bahwa komunikasi interkultural adalah komunikasi yang terjadi antara orang yang berasal dari negara yang berbeda. Kenyataannya memang benar, melakukan komunikasi dengan orang yang berasal dari negara yang sama lebih mudah dibandingkan melakukan komunikasi dengan orang yang berasal dari negara yang berbeda. Akan tetapi, bila dicermati, berbagai peristiwa di tanah air kita, bentrokan antara suku, kericuhan antara kampung, itu mencerminkan adanya perbedaan pola pikir, cara pandang terhadap phenomena kehidupan di antara golongan masyarakat. Padahal, peristiwa tersebut terjadi di antara orang-orang yang berasal dan berada di negara yang sama. Oleh sebab itu, dasar komunikasi interkultural sebenarnya diawali dari pertemuan antarpersonal (satu orang lawan satu orang).

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengetahui siapa diri kita. Kita juga tidak mungkin hidup tanpa orang lain. Dalam menjalin hubungan dengan orang lain, kadang-kadang kita dibuat tidak mampu untuk menghindari kesalahpahaman, padahal kita masih dalam satu wilayah. Diikat oleh janji yang bagi sebagian orang “janji-janji tinggal janji”. Sedangkan nilai janji itu sangat agung, satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia. Begitulah janji itu bunyinya.

Dapat dibayangkan bila kita berkomunikasi dengan orang-orang dari bangsa lain yang bahasa, budaya, dan pola berpikirnya berbeda. Sudah barang tentu lebih rumit dibandingkan dengan bangsa yang sama, karena akan dituntut mampu memahami pola pikir, budaya, bahkan sistem komunikasi mereka. Oleh sebab itu, pemahaman kode-kode kebahasaan, baik verbal ataupun non verbal sangatlah penting untuk keberhasilan proses berkomunikasi yang baik, benar, dan tepat.

Dalam makalah ini penulis akan memberikan gambaran, betapa pentingnya pemahaman prinsip-prinsip komunikasi interkultural. Semoga dapat memberikan masukan bagi pembelajar bahasa Jepang.

2. Mengapa “Komunikasi Interkultural”

Menurut Samover (1981), komunikasi interkultural terjadi ketika pengirim pesan dan penerima pesan berlatarbelakang budaya yang berbeda. Gudykunt, Kim (dalam Atsuko, Tokui. 2002:15) mendefinisikan komunikasi interkultural adalah proses abstrak dan aktivitas terpadu dan pemaknaan dalam komunikasi yang dilakukan antara orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda. Sedangkan Yasshiro, dkk.(1998) menjelaskan bahwa komunikasi interkultural yang ideal digambarkan bila orang-orang yang terlibat dalam koimunikasi melakukan interpretasi makna pesan, mengumpulkan informasi, dan melakukan pertukaran informasi tersebut untuk saling menghormati, dan bekerjasama untuk saling menguntungkan.

Komunikasi interkultural (intercultural communication) pada umumnya dipakai dalam situasi komunikasi secara langsung antara orang-orang yang memiliki budaya berbeda. Sedangkan komunikasi lintas budaya (Cross Cultural Communication) digunakan untuk situasi komunikasi tertentu dan dibandingkan dengan beberapa kebudayaan. (Atsuko, Tokui. 2002:16).

Untuk memudahkan tercapainya komunikasi interkultural, penting diketahui, sejauh mana orang-orang yang terlibat dalam komunikasi mengetahui pribadinya masing-masing. Banyak orang yang berusaha mengetahui orang lain tapi tidak banyak orang yang berusaha mengetahui dirinya. Berikut akan dijelaskan beberapa langkah dasar untuk meningkatkan kemampuan komunikasi interkultural terutama tentang pemahaman diri sendiri.

3. Mengenal Diri Sendiri

Apa yang akan Anda katakan jika Anda ditanya “Siapa diri Anda?”. Jawaban Anda tentu bermacam-macam. “Saya seorang pendiam”, “Saya seorang yang suka membantu orang lain”, “Saya seorang penakut”, “Saya dosen bahasa Jepang”, dan masih banyak lagi jawaban yang dapat Anda pilih. Akan tetapi, apakah jawaban itu telah mencerminkan diri Anda yang sesungguhnya?. Pernahkah Anda tercengang, ketika tiba-tiba orang terdekat Anda mengatakan, “Sungguh Anda seorang pemberani”, “Anda pengecut”.

Dalam diri Anda, ada bagian yang Anda ketahui. Disamping itu, ada pula, bagian yang tidak ingin diketahui orang lain. Hal ini sering terjadi ketika Anda berhadapan dengan orang yang baru saja Anda kenal. Dalam situasi seperti itu, tidak mungkin Anda membeberkan tentang diri Anda kepadanya. Kalau itu terjadi pada Anda, tentu Anda akan menjadi bahan cemoohan. Anda akan dikatakan “orang aneh”, “orang yang banyak bicara”, dan lain-lain.

Permasalahannya, apa kira-kira yang akan Anda pilih sebagai tema pembicaraan ketika Anda bertemu dengan seseorang untuk pertama kailinya?. Apakah Anda akan memilih tema tentang “usia Anda”, “pekerjaan Anda”, “hobi Anda”, atau tentang “keluarga Anda”. Yang pasti, dalam diri Anda ada bagian yang terbuka dan ada bagian yang tertutup. Menurut Atsuko, Tokui (2002:19), bagian yang terbuka atau yang dapat diutarakan kepada orang lain disebut self commencement atau jikokaishi (keterbukaan diri). Untuk melihat sejauh mana “keterbukaan diri” dan “ketertutupan diri” seseorang, Luft, Joshep & Ingham, Harrington, (1955) membuat bagan yang dikenal dengan nama Johari Window (Johari Mado).


Johari window yang berbentuk kanji 「田」di atas, dilihat secara vertical, bagian kotak sebelah kiri dan sebelah kanan masing-masing menunjukkan bagian yang diketahui diri sendiri dan bagian yang tidak diketahui diri sendiri. Kemudian, dilihat secara horizontal, dalam gambaran diri sendiri tersebut terdapat bagian yang “diketahui orang lain”dan “tidak diketahui orang lain”.

Masing-masing kotak dari kiri ke kanan diberi nomor , , , dan . Kotak menunjukkan bagian yang diketahui baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain. Kotak menunjukkan bagian yang tidak diketahui oleh diri sendiri, tetapi tidak diketahui oleh orang lain. Kotak menunjukkan bagian yang diketahui diri sendiri, tetapi orang lain tidak tahu. Sedangkan kotak ialah bagian yang tidak diketahui baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain. Dengan demikian, apabila makin besar bagian kotak , yaitu bagian yang diketahu baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain, maka “keterbukaan diri” atau jikokaishi seseorang akan semakin besar pula. Dapat dibayangkan, apa yang akan terjadi bila komunikasi berlangsung, katakanlah antara Mr. Wise dan Mr. Rich yang masing-masing besar bagian keterbukaan dirinya berbeda. Misalnya, Mr. Wise memiliki kotak lebih besar dibandingkan dengan Mr. Rich. Dalam situasi seperti ini, Mr. Rich akan menganggap Mr. Wise adalah “orang yang banyak ngomong tentang dirinya”. Sedangkan Mr. Wise akan menganggap Mr. Rich “seorang yang memiliki sifat pendiam”. Tidak jarang perbedaan persepsi antara keduanya menimbulkan kesalahpahaman. Apa lagi kalau terjadi pada dua orang yang baru saja saling berkenalan. Kondisi seperti ini tidak jarang menimbulkan kesan yang kurang baik di antara pelaku komunikasi.

Bhanland (1979) mengatakan, “keterbukaan diri” ketika berkomunikasi dengan orang lain disebut koutekijiko (keterbukaan diri). Sedangkan “ketertutupan diri” dinamakan shitekijiko (ketertutupan diri). Bila dua tipe manusia seperti ini melakukan komunikasi, sudah dipastikan akan melahirkan kesalahpahaman.

Akan tetapi, Johari Window seseorang tidak statis, melainkan berubah berdasarkan kondisi, situasi, dan tempat terjadinya komunikasi tersebut. Sehingga, bagaimana sebaiknya seseorang membuka dirinya kepada lawan komunikasinya, akan tergantung pada siapa, di mana, kapan terjadinya komunikasi tersebut.

Seorang dosen yang ingin melihat jikokaishi mahasiswanya, yang datang berkonsultasi tentang permasalahan yang dihadapinya, sebaiknya selalu memperhatikan urutan-urutan pertanyaan yang diajukan kepada mahasiswanya. Miller & Steinberg (1975) menyarankan urutan-urutan pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang mendorong orang membuka dirinya. Misalnya, dengan bertanya tentang “keadaan cuaca” atau “kebiasaan makan”. Kemudian meningkat pada “pekerajaan” atau “organisasi”, seperti sekolah, perusahaan, peranan seseorang dalam keorganisasian. Setelah itu dapat ditingkatkan pada pertanyaan tentang “cara berpikir” atau “pendapat” lawan komunikasi. Dalam kegiatan komunikasi, kita sering kali memilih tema pembicaraan secara serabutan. Padahal, idealnya kita memperhatikan urutan-urutan tersebut.

4. Komunikasi dan Keterbukaan Diri

Kalau Anda seorang guru atau dosen, tentu pernah punya pengalaman didatangi siswa atau mahasiswa untuk berkonsultasi. Coba ingat kembali, bagaimana cara Anda mendengarkan keluhan atau menjawab pertanyaan dari mereka?. Pernahkan Anda menjawab tanpa lebih dulu mendengarkan mereka berbicara secara tuntas?. Untuk mendengarkan pembicaraan orang yang sedang membuka dirinya, sebaiknya tidak mengajukan pertanyaan yang menyebabkan lawan bicara menutup diri. Pertanyaan yang membuat lawan bicara menutup diri adalah pertanyaan yang mengundang jawaban seperti “Hai” atau “Iie”. Coba bandingkan pertanyaan berikut dibawah ini.

会話例「質問があるの」

(Ada pertanyaan?)

「はい(もっと言いたいけど、これ以上は言えないなあ)」

(Ya, “aku ingin bicara lebih banyak, tapi kayaknya gak mungkin aku bicara lebih dari ini”)

会話例「どうしたの?」

(Apa yang telah terjadi?)

「実は、勉強のことで悩んでいるんです」

(Sebenarnya, saya bingung dengan masalah belajar). (Atsuko, Tokui. 2002:22).

Pertanyaan pada percakapan adalah pertanyaan tertutup, sedangkan pertanyaan pada percakapan adalah pertanyaan terbuka. Oleh karena itu, lawan komunikasi akan lebih membuka dirinya bila diberi pertanyaan 「どうしたの?」dari pada pertanyaan 「質問があるの?.

Menurut Atsuko, Tokui (2002:23), seorang guru atau dosen sebaiknya tidak menyampaikan kata-kata yang seolah-olah menghibur lawan komunikasinya seperti, kata-kata 「大丈夫よ、頑張って」. Mengapa demikian? Karena sebenarnya, belum tentu lawan berbicara kita meminta solusi terhadap masalah yang dibicarakannya. Mungkin saja mereka hanya ingin didengarkan. Di samping itu, kata-kata seperti tersebut di atas menutup kemungkinan mereka, untuk menutup apa yang ingin disampaikannya, serta akan menjadi beban bagi mereka.

Dari penjelasan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa cara berkomunikasi akan sangat berpengaruh pada keterbukaan diri.

5. Kesulitan Komunikasi Dalam Bahasa Jepang.

Pertama-tama penulis ingin mengemukakan beberapa kesulitan komunikasi dalam bahasa Jepang. Tingkat kesulitan yang dialami oleh seorang penutur bahasa Jepang (berikutnya dipakai istilah nihongojin) dengan nihongojin lainnya, akan berbeda tergantung pada tingkat kemampuan penguasaan speech acts dari nihongojin tersebut. Akan tetapi, ada baiknya penulis kemukakan di sini, beberapa kesulitan yang umum untuk dijadikan bahan pemikiran. Lihatlah gambar berikut.

Anda akan dapat memahami kesulitan berbahasa Jepang bila mencoba membuat cerita berdasarkan gambar tersebut. Pertama-tama, buatlah cerita dalam bahasa Jepang. Kemudian, buat juga cerita dalam bahasa Indonesia atau bahasa Ibu Anda. Bandingkan hasilnya, kekhawatiran dan perasaan stress Anda akan berbeda ketika bercerita dalam kedua bahasa tersebut

Ilustrasi 1 diambil dari “FUREAI NIHONGO” (2002)

Ilustrasi 1 diambil dari “FUREAI NIHONGO” (2002)

Ketika Anda bercerita dalam bahasa Jepang, Anda akan membuatnya dengan kata-kata yang Anda ketahui yang disusun dalam kalimat-kalimat pendek.Anda juga akan bercerita hanya hal-hal yang tampak dipermukaan atau tampak pada gambar itu saja. Tetapi ketika Anda membuat cerita dalam bahasa Indonesia atau bahasa Ibu, Anda mampu dengan luwes menceritakan apa yang ada dalam alam pikiran Anda. Kepuasan yang Anda rasakan tentu berbeda.

Seperti dipaparkan di muka, ketika Anda bercerita menggunakan bahasa Jepang, Anda hanya akan mengungkapkan secara langsung hal-hal yang muncul dalam gambar tersebut. Anda akan merasakan kesulitan pada waktu ingin mengungkapkan perasaan yang abstrak. Anda akan kesulitan ketika berusaha memaparkan alur peristiwa yang ada dalam pikiran Anda. Tetapi ketika Anda menggungkapkan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Ibu Anda, dengan luwes pula semua imajinasi dan perasaan-perasan tersebut Anda kemukakan. Masih banyak perbedaan yang dapat diungkapkan dari hal–hal tersebut.

Hal yang lain, Anda juga dapat mencoba mengutarakan apa yang ingin Anda sampaikan hanya dengan menggunakan verba, nomina, dan ajectiva. Setelah itu, utarakan seperti biasanya anda berbicara. Anda utarakan pula apa yang ingin anda sampaikan dalam bahasa Jepang dengan menyusun urutan Subyek, Predikat, dan Objek. Apa yang Anda rasakan setelah mencobanya?

Ternyata sulit menyampikan sesuatu hal bila dibatasi hanya menggunakan verba, nomina, ajektiva saja. Kalau Anda dapat menyaksikan wajah Anda pada saat melakukannya, Anda akan dapat melihat ketegangan pada wajah Anda. Sebaliknya, Anda akan merasa rileks ketika menyampaikan sesuatu tanpa dibatasi penggunaan kata-katanya. Apa lagi bahasa Jepang, unsur-unsur kalimat seperti ‘kata keterangan’, ‘partikel’, ‘verba bantu’, tidak dapat dilepaskan dari bagian kalimat.

Berikutnya cobalah Anda menyusun kalimat dengan satuan kategori gramatikal, subjek(S), predikat(V), objek(O). Betapa tegangnya otak Anda memikirkan dan menukarkan urutan pola kalimat ke dalam bahasa Jepang. Karena stuktur kalimat bahasa Jepang berpola subjek(S), objek(O), predikat(V).

Dari penjelasan di atas, yang dapat disimpulkan adalah betapa sulitnya menguasai bahasa Jepang tanpa menyusun strategi belajar yang baik dan benar. Betapa sulitnya pula menjadi nihongojin yang memiliki kompetensi komunikasi yang integrated. Oleh sebab itu, pemahaman budaya penutur asli akan sangat membantu meningkatkan pemahaman prinsip-prinsip speech acts bagi seorang pembelajar.

6. Dari Mana Lahirnya Kesalahpahaman

Untuk menganalisis asal mula terjadinya kesalahpahaman, ada baiknya penulis sajikan sebuah dialog dari sepasang remaja A dan B yang baru saja keluar dari sebuah gedung bioskop.

A: 「あの、ロマンテイックな海辺の風景よかったわね。遠くにぽっかり舟が浮かんでいてすてきだった」

(Emh, Indah sekali ya, pemandangan pantai yang romantik. Di kejauhan sebuah perahu terapung sangatlah indah)

B: 「えっ?舟が浮かんでったけ? それより、あの、ほら、あの主人公が乗っていた車、かっこうよかったなあ。あんな車乗りたいな」

(Apa? Perahu terapung!. Aku sih, tertarik dengan, itu lho, mobil yang digunakan oleh pemeran utamanya. Keren banget… Aku ingin punya mobil seperti itu)

A: 「えっ?あまり覚えていないけど」

(Ha ! Aku tidak begitu ingat)

AB:「・・・・・!」

(……………..! )

Dari percakapan 2 orang remaja di atas, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan kesan terhadap adegan, dan bagian film yang menarik perhatian mereka. Kita mengumpulkan bermacam-macam informasi melalui mata dan telinga. Secara tidak sadar, sebenarnya kita menyeleksi informasi tersebut. Demikian halnya terjadi pada 2 orang tersebut di atas. Satu orang tertarik pada perahu, dan satu orang lagi tertarik pada mobil yang digunakan pelaku utama dalam film tersebut. Beginilah dalam sebuah kehidupan, kesalahpahaman muncul dari “hal-hal yang terlihat di sekeliling kita”. Komunikasi tidak terbatas pada proses berbicara dan mendengar, melainkan termasuk bagaimana kita memberi pemaknaan terhadap informasi yang dikumpulkan dari luar. Araki dkk. (1995) menyebutkan bahwa, komunikasi adalah proses menata informasi dari data mentah yang muncul dari luar diri, yang menurut orang itu memiliki makna. Kemudian, Ia bertindak berdasarkan hasil tersebut sehingga dapat hidup beradaptasi dalam lingkungan yang beragam.

Lalu, bagaimana kita menerima informasi dari luar, dan memberi makna terhadap informasi tersebut? Mengapa dalam proses pemerolehan informasi terjadi kesalahpahaman?. Hasshiro dkk. (1998),(2001), telah mengembangkan pemikiran Berlo (1960) tentang konsep training interkultural. Training itu dinamakan DIE, yang merupakan singkatan dari kata Description (知覚), Interpretation (解釈), Evaluation(評価). Konsep ini salah satu training yang dapat dimanfaatkan ketika terjadi kesalahpahaman yang diakibatkan oleh kuatnya pemahaman terhadap salah satu unsur tersebut.

Perhatikanlah bagan urutan proses pemerolehan informasi berikut di bawah ini. Mengapa, kesahpahaman muncul dalam kegiatan komunikasi?

Bagan di atas adalah gambaran urutan proses pemerolehan informasi. Mula-mula, kita memperoleh informasi dari luar melalui pendengaran baik berupa suara atau bunyi. Informasi juga dapat diperoleh memalui penglihatan mata. Artinya, kita memperoleh informasi diawali dengan proses mendeskripsikan. Misalnya, “orang itu memakai baju merah”, “terdengar bunyi pesawat terbang”, dan lain-lain. Kemudian kita melakukan interprestasi terhadap informasi tersebut. Misalnya, “ada mobil sedang melaju”, “pesawat terbang sedang terbang”. Yang terakhir, kita melakukan evaluasi. Misalnya, “bising sekali”, “kelihatannya menyenangkan” dan lain-lain. Demikianlah, secara otomatis dan tanpa disadari kita menyeleksi dan memproses informasi melalui tiga tahapan yaitu DIE.

Konsep ini sangat penting untuk menganalisis, ketika ditemukan kejanggalan sikap, ketidakwajaran cara berpikir, dan keanehan tindakan pada seseorang. Bagi seorang guru, training DIE dapat diimplementasikan ketika mengidentifikasi karakteristik pembelajar dari segi fisik, sosial, moral, budaya, emosional, dan intelektual. Sehingga hasil dari analisis tersebut dapat menstimulasi cara berpikir pembelajar sesuai dengan tahap perkembangan kognitifnya.

7. Memahami Komunikasi Interkultural ?

Di bagian akhir tulisan makalah ini penulis ingin menjelaskan tentang komunikasi interkultural. Banyak orang beranggapan bahwa komunikasi interkultural terjadi pada orang yang berasal dari dua negara yang berbeda. Misalnya, orang Indonesia dengan orang Jepang. Akan tetapi, mari kita cermati percakapan berikut di bawah ini. Anda boleh menebak, siapa pelaku percakapan ini.

A.「どんなことが趣味ですか」

(Hobi Anda, apa?)

B.「バドミントンです。インドネシアではみんなこのスポーツをよくやりま す」

(Bulu tangkis. Orang di Indonesia semua melakukan olahraga ini)

A.「そうですか」

(Oh, begitu)

Kalau kita perhatikan, percapan di atas dapat dipastikan berlangsung antara orang Indonesia dengan orang dari luar Indonesia. Dari percakapan itu lahir komunikasi interkultural. Tetapi, interkultural tersebut tidak selalu tetap karena akan berubah berdasarkan situasi dalam percakapan. Perhatikan kelanjutan percakapan berikut ini.

B.「あなたはスポーツをやりますか」

(Anda suka olah raga)

A.「えっ?私ですか。ええ、ダンスを最近始めたばかりです。結構面白いです。男の人はあまりやらないかもしれないけど、どうですか」

(Ha!, Saya?. Ya, Saya baru saja memulai belajar dansa. Lumayan menyenangkan. Tapi, mungkin bagi laki-laki kurang menarik. Bagaimana, Anda suka dansa?)

Kalau Anda memperhatikan dan mencermati bagian-bagian percakapan di atas, kira-kira menurut Anda percakapan tersebut terjadi antara orang seperti bagaimana?. Dilihat dari kelanjutan percakapannya, dan dari bagian kalimat yang diucapkan A yaitu「男の人はあまりやらないかもしれないけど」, dapat ditafsirkan bahwa percakapan tersebut terjadi antara “perempuan yang sedang menjelaskan sesuatu kepada laki-laki”. Hal ini menandakan terjadinya interkulturalisme antara laki-laki dan perempuan.

Pendek kata, komunikasi interkultural bukan diartikan karena terjadinya percakapan antara “orang Indonesia dengan orang Jepang” atau “antara laki-laki dengan perempuan”, tetapi dapat terjadi di dalam kondisi percakapan itu sendiri. Tentu saja ada komunikasi yang tidak mengandung interkulturalisme meskipun terjadi percakapan baik menggunakan bahasa asing ataupun bahasa ibu sendiri. Sebab itulah dalam pendidikan bahasa Jepang perlu sekali mencermati setiap kegiatan percakapan karena disitulah banyak muncul hal-hal yang menarik terutama yang terkait dengan komunikasi interkultural.

Dalam komunikasi interkultural sering muncul “kekhawatiran”. McCroskey, J.C, (1982), menamakan hal ini sebagai Communication apprehension atau kekhawatiran komunikasi. Menurut Klop & Cambra (1979), kekhawatiran orang Jepang ketika melakukan kominikasi menduduki persentase cukup tingi dibandingkan orang Korea dan orang Tionghoa. Angket tentang “kemampuan komunikasi diri sendiri”, membuktikan pernyataan tersebut. Kemampuan komunikasi orang Jepang, berdasarkan hasil angket, yang menjawab positif hanya 39% selebihnya menjawab negatif. Sedangkan komunikasi mahasiswa asing yang menjawab positf adalah 66%. Jadi, Communication apprehension orang Jepang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa asing yang melakukan komunikasi menggunakan bahasa Jepang.

Kondisi seperti ini perlu mendapat perhatian, karena pengaruhnya sangat besar terhadap pemilihan strategi komunikasi interkultural dengan penutur asli bahasa Jepang. Pada akhirnya kita dapat menghindari berbagai kesalahpahaman yang disebabkan perbedaan budaya di antara peserta komunikasi.

Ada lagi sebuah training interkultural untuk menganalisis kesalahpahaman atau gokai, yaitu dengan pengasimilasian budaya, Culture Assimilator. Cara ini adalah sebuah Attribution training dengan belajar mengintrerprestasikan terjadinya peristiwa yang menyebabkan suatu kejadian, dilihat dari kacamata lawan komunikasi yang memiliki latar belakang budaya berbeda. Realisasi dari training ini adalah pertanyaan tentang sebab-sebab terjadinya kesalahpahaman dalam komunikasi interkultural. Kemudian terhadap pertanyaan itu disediakan pilihan jawaban dan penjelasannya.. Misalnya, digambarkan “kejadian antara mahasiswa Indonesia yang makan bersama-sama orang Jepang. Ia kaget pada waktu selesai makan masing-masing harus membayar.” Kemudian, disediakan beberapa pilihan jawaban terhadap pertanyaan, “mengapa mahasiswa Indonesia merasa tidak tenang melihat sikap orang-orang Jepang tersebut?”. Misalnya, pilihan jawabannya adalah “karena dia menganggap dirinya sebagai mahasiswa asing yang kemungkinan dibayari”, “Karena dia mengira akan ada yang membayar dulu, kemudian ia membayar bagiannya kepada orang yang membayar tadi.”, “Karena yang mengajak adalah pembimbing, ia mengira dosen yang lebih seniorlah yang membayarnya”. Dari pilihan jawaban tersebut, dapat dipilih jawaban yang paling tepat, tetapi bukan cara untuk menyelesaikan terjadinya kesalahpahaman yang sesungguhnya. Yang perlu diperhatikan adalah proses interprestasi terhadap kejadian tersebut. Pilihan jawaban yang tepat tidak selalu mutlak benar, karena pada kenyataannya banyak pula hal yang berbeda dengan pernyataan tersebut.

8. Simpulan

Dari penjelasan di atas, penulis dapat mengambil simpulan sebagai berikut;

Kegiatan pembelajaran bahasa Jepang dewasa ini, disamping menitikberatkan pada 4 keterampilan berbahasa, perlu juga menekankan pada kemampuan pemahaman budaya penutur aslinya, termasuk sistem komunikasinya. Sehingga dalam kegiatan berbahasa, nihongojin benar-benar menerapkan prisip-prinsip tindak tutur bahasa Jepang yang tepat.

Nihongojin yang baik adalah nihongojin yang mampu memahami prinsip-prinsip komunikasi yang tepat. Komunikasi interkultural adalah salah satu dari model komunikasi yang penting untuk dipahami, karena komunikasi interkultural tidak hanya terkait dengan orang-orang dari negara yang berbeda tetapi terkait dengan bagaimana seseorang mengemas informasi atau messages yang akan diterima dan yang akan disampaikan.

Kesulitan berbahasa Jepang disamping disebabkan oleh faktor kebahasaan yang ada di dalamnya, juga disebabkan oleh sistem komunikasi yang dimiliki oleh penutur bahasa tersebut.

Perbedaan sistem komunikasi yang terdapat dalam suatu bahasa akan banyak menimbulkan kesalahpahaman tatkala para nihongojin kurang mampu mengelola informasi yang mereka terima. Konsep DIE dapat digunakan untuk mengelola informasi tersebut.

Komunikasi interkultural terjadi dalam berbagai wacana lisan. Dalam memahami komunikasi intercultural, wacana lisan menjadi penting untuk diamati.

Sesuatu hal yang lebih penting lagi, untuk memahami komunikasi interkultural adalah training dalam hal tersebut. Training seperti itu belum banyak dilakukan dalam proses pembelajaran bahasa Jepang, bahkan mungkin belum disentuh sama sekali. Oleh karena itu, gagasan ini mudah-mudahan dapat dijadikan bahan pemikiran untuk meningkatkan kualitas pendidikan bahasa Jepang di Indonesia.

Daftar Refferensi

1. Berlo, D. (1960) The Process of Communication. New York : Hotl, Rinehart and Winston, Inc.

2. Bugarsky, Ranko. (1985) Tranlation Across Culture : Some Problems with Terminologies dalam Kurt R. ed. (1985 : 159-163)

3. Catf ord, J.C. (1965) Linguistic Theory of Translation. London : Oxford University Press.

4. Djodjok Soepardjo. (1999) “Komunikasi dan Hubungan Personal Orang Jepang” dalam Budaya Jepang Masa Kini. Bintang.

5. John Baldoni. (2003) Great Communication Secrets of Great Leaders. McGraw-HillCompanies, New York Diterjehkan oleh Silvester Lintu. PT. Bina Ilmu Populer.

6. Gudykunst, W. &Kim, Y.Y. (1984) Communication with Strangers. Eddison Wesley Publishing Co.

7. Klop, D.W. & Cambra, R.E. (1979) Communicatoin apprehension among college students in America, Australia, Japan and Korea. Journal of Psichology, 102.

8. Luft, Joshep&Ingham, Harrington. (1955) The Johari Window: A Graphic Model of Interpersonal Awareness. Los Angeles: University of California Extension Office.

9. Nancy Bonvillain. (1993) Laguage, Culture, and Communication ~The meaning of Messeges~. Pearson Education LTD. London.

10. Neubert, Albert.(1985) Translation Across Language or Across Culture? dalam Scientific and Humanistic Dimension of Language. Kurt R. ed.

11. McCrorkey, J.C. (1982) Oral Communication apprehension: A reconceptualization. Communication Yearbook 6. Beverly Hills, Sage.

12. Miller, G. & Steinberg, M. (1975) Between People. Chikago: Science research Assosiates

13. Samover, L.A. & Porter, R.E. & Jain, N.C. (1981) Understanding Intercultural Cummunication. Wadsworth.

14. DC. バーンランド(1979)『日本人の表現構造公的自己と私的自己アメリカ人との比較』(西山千訳)サイマル出版会

15. 石井敏・岡部朗一・久米昭元編(1987)『異文化コミュニケーションー新・国際人への条件』有斐閣

16. 慶三郎丸山(1995)『言葉とは何か』棗書房

16. 徳井厚子(2002)『多文化共生のコミュニケーションー日本語教育の現場から』アルク

17. 八代京子・町恵理子・小池活子・磯貝友子(1998)『異文化トレーニングボーダレス社会を生きる』三修社

18. 八代京子・荒木晶子・樋口容視子・山本志郎・コミサロフ貴美(2001)『異文化コミュニケーションワークブック』三修社

19. 吉田禎吾(1987)「文化」石川栄吉他編『文化人類学辞典』弘文堂

20. 渡辺文夫(1995)『異文化接触の心理学その現状と理論』川島書店

Advertisements

October 21, 2008

Hello world!

Filed under: Uncategorized — soepardjo @ 8:55 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Blog at WordPress.com.