Soepardjo’s Blog

November 20, 2008

HEGEMONI BUDAYA MELALUI BAHASA

Filed under: Makalah — Tags: , , , , — soepardjo @ 9:24 am

HEGEMONI BUDAYA MELALUI BAHASA
Oleh: Djodjok Soepardjo

1. Pendahuluan
Pertama-tama saya menyampaikan terimakasih kepada panitia yang telah memberikan kesempatang ikut berpartisipasi dalam seminar ini. Selanjutnya, ketika saya mencermati tema seminar ini yaitu “Hegemoni Budaya Melalui Bahasa”, saya jadi teringat beberapa sms yang saya terima.

“Alhmd br k luar rs kmrn. IA kt slg doa ya mas jo. Aq kgn rifqy. Ajak nginep rmah ya kpn2 x pas wk end”

ASsalamuaLaykum.p Susy (nama samaran pengirim SMS) bngung! Ibu ma abah masx susy skrg ndk merestui hub susy krn alas an hsl shlt astiharahx tdk baik, jd dtruskan tdk baik. Tp susy Mw puTus msh mikir2, syng dg wky 8 thn jLn dg mas. Apa, maksud Allah sprt ini y p ?!! pdhl thn lalu orang tw mas sdh welcome bgt sm susy. Mikir ini rasae nyesek..”

Kalimat di atas adalah 2 contoh sms dari 2 orang yang berbeda. Saya menerima sms tesebut beberapa hari yang lalu. Dari sini tampak jelas, ada tindakan hegemoni bahasa akibat budaya sms. Saya merasa prihatin kalau membaca bahasa yang dipaksa ditekuk-tekuk, dipites-pites untuk alat menyampaikan pikiran manusia. Implikasinya, sipenerima pesan kadang harus berpikir lama untuk memahami isi informasi yang disampaikan oleh si pengirim pesan.

Fenomena di atas, sebuah contoh kongkret yang setiap saat dapat dijumpai dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan kita sendiri pelakunya. Akan tetapi, kita ketahui bahwa tugas bahasa adalah menyampaikan informasi dalam suatu bentuk komunikasi. Kalau komunikasi tersebut sudah saling dipahami, apakah kenyataan seperti sms di atas masih perlu dipersoalkan?

Ada tiga persoalan yang perlu dicermati ketika membaca tema yang dikemukakan oleh panitia. Pertama adalah persoalan kata hegemoni. Istilah hegemoni berasal dari kata Yunani yaitu hegeisthai (to lead atau shidouken). Kata ini banyak dipakai oleh para ahli sosiologi untuk menggambarkan suatu usaha mempertahankan kekuasaan. Artinya, bagaimana kelompok yang mendominasi berhasil mempengaruhi kelompok yang didominasi untuk menerima nilai-nilai moral, politik, dan budaya dari kelompok berkuasa. Sebagai contoh kekuasaan pemerintahan orde baru. Ia mampu menekan seluruh aspirasi masyarakat sehingga patuh dan tunduk kepada pemerintah pada saat itu. Ketika itu, orang yang “bersuara” segera dibungkam, orang yang “berontak” dibentak, orang yang “ngamuk” dibekuk, bahkan ada yang “bergerak” akhirnya ditembak.

Tokoh hegemoni yang terkenal adalah Gramsci (1891-1937). Analisis hegemoninya merupakan usaha improvisasi terhadap konsep determinasi ekonomi dan kritik terhadap kaum kapitalis. Meskipun analisis hegemoni Gramsci berkisar pada kekuasaan ekonomi, namun konsep hegemoni dapat diperluas ke wilayah sosial dan regional seperti dicontohkan di atas.

Ke-dua, yang perlu dicermati adalah kata “budaya”. Kata ini sering disebut-sebut. Tetapi apabila ditanya maknanya tidak semua orang dapat menjawab. Tampaknya sangat sederhana, tetapi saya berharap apa yang dipaparkan di sini dapat menggugah kesadaran kita terhadap hakekat kebudayaan. Kadang kita merasa heran, ketika dihadapkan pada kenyataan, dan perasaan kita mengatakan betapa mencoloknya perbedaan antara diri kita dengan orang lain. Haruslah disadari, bahwa semua hal yang demikian pada dasarnya dipengaruhi oleh kebudayaan, bahkan itulah hakekat kebudayaan. Dikatakan bahwa kebudayaan (culture) merupakan elemen yang sulit untuk berubah dalam masyarakatnya. Disamping itu ada empat elemen lainnya yang sulit berubah yaitu ras (racial trait), kebangsaan (nationality), mental (mentality), masyarakat (sociality). Jadi, kalau ada tindakan hegemoni kebudayaan melalui bahasa, “kekuatan” bahasa tersebut sangat luar biasa. Umumnya kebudayaanlah yang mengatur bahasa sebagai alat untuk melestarikannya.

Yang ketiga adalah “bahasa”. Kita sudah tahu definisi bahasa. Bahasa sangat dinamis mengikuti perkembangan kebudayaan. Dalam kehidupan berbudaya yang pertama kali kena dampak akibat perkembangan kebudayaan adalah bahasa. Dewasa ini hampir semua orang memiliki komputer. Dengan munculnya budaya komputer, tidak sedikit dampak negative yang dapat dirasakan. Dulu kemampuan menulis kanji saya cukup baik. Tetapi sekarang anjlok ke tingkat yang jauh lebih rendah. Itu gara-gara si komputer. Dulu keindahan menulis kanji saya sangat diperhatikan karena bila mengirim surat, saya malu tulisan saya tidak terbaca. Sekarang saya tidak perdulikan dengan keindahan tulisan saya, karena saya dapat bebas memilih font di komputer. Jadi, dampak hegemoni kebudayaan terhadap bahasa sangat kuat.

Untuk lebih jauh memahami permasalahan ini, sekarang mari kita lihat bagaimana hubungan bahasa dengan kebudayaan.

2. Hubungan Bahasa dengan Kebudayaan.
Dikatakan bahwa sejarah manusia diawali bersama-sama bahasa. Selama ini banyak ahli antropologi yang mendefinisikan bahwa manusia adalah makhluk pencipta alat (homo fabel). Artinya eksistensi alat atau perkakas merupakan tanda-tanda adanya kehidupan (kebudayaan). Akan tetapi, menurut Claude Levi-Strauss seperti dikutip oleh Maruyama (1995:43), anggapan tersebut sekarang sudah lebih disempurnakan.

Dewasa ini, pembatas antara alam dengan kebudayaan bukan lagi didasarkan pada eksistensi sebuah alat, tetapi didasarkan pada bahasa. Dengan kata lain, sebelum membentuk manusia sebagai homo fabel atau homo sapiens (manusia haus ilmu) perlu dibentuk dulu manusia homo loquens (manusia berbahasa). Karena denga bahasa itulah manusia dapat memelihara seluruh kebudayaannya. Kalau pada sifat alat itu tampak adanya suatu tranformasi dari alam kepada kebuyaan, maka bahasalah alat yang paling utama yang diciptakan manusia untuk proses tersebut, dan inilah yang memungkinkan sumber konsep pembuatan seluruh alat-alat.

Bahasa adalah organ physiology yang digunakan secara instingtif dan alami. Hal ini yang membedakan inti bahasa dengan ketika kita menggunakan paru-paru unuk bernafas atau berdiri kemudian berjalan.. Burung beo di rumah saya mampu menirukan kata salam seperti “assalamu alaikum” dan menirukan kata “kamu jelek”. Tetapi Ia tidak bisa membuat kalimat bentuk lampau atau pengandaian.

Sejak kita lahir di alam fana ini sudah dikelilingi oleh bahasa, dibesarkan dengan bahasa, berpikir memakai bahasa, berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa. Karena kelekatan bahasa dengan kehidupan kita, sering kali secara refleksi bahasa tidak dipikirkan. Dalam keadaan seperti ini, kadang-kadang kita dibuat jengkel karena tidak mampu memahami komunikasi dengan orang-orang yang menggunakan bahasa yang sama. Termasuk seperti contoh penulisan sms yang kadang susah untuk dipahami.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui oleh kita bagaimana hakekat bahasa dalam kehidupan manusia. Karena di dalam bahasa tercermin sifat-sifat kebudayaan dan oleh karena itulah, cermin kebudayaan suatu bangsa ada di dalam bahasa bangsa tersebut.

3. Hubungan Bahasa dengan Mmanusia
Perubahan yang terjadi pada manusia baik dalam aktivitas spiritual atau pun cultural didasarkan pada bahasa. Disini, untuk lebih memahami bahasa, saya akan berikan sebuah ilustrasi

Ada seorang yang baru pindah rumah, di tempat yang baru Ia melihat 4 ekor kucing. Karena beberapa orang tetangganya yang suka kucing memeri makan, Ia anggap kucing itu bukan kucing liar atau kucing peliharaan.. Orang yang baru saja pindah tadi segera memelihara kucing-kucing tersebut. Tiap-tiap ekor kucing Ia perhatikan. Bukan hanya warna bulunya atau bentuk badannya, tetapi gerak-gerik, ekspresi wajah, sampai pada perbedaan sifatnya Ia ketahui. Ia memberi nama kepada masing-masing kucing tersebut. Tidak lama kemudian, kejadian itu diketahui oleh tetangga yang tidak suka kucing. Orang tersebut menggerutu, “masa kucing saja diberi nama”. Orang yang telah menjadi majikan kucing-kucing tersebut kaget mendengar gerutuan orang tadi.. Ia merasa heran, karena baginya memberi nama kepada kucing adalah hal yang wajar. Ia baru kali ini mengetahui kalau ada orang yang merasa aneh dengan pemberian nama kepada kucing. Orang yang menggerutu tadi, akhirnya setelah membaca buku mengetahui juga kalau sapi-sapi piaraan di Amerika semuanya diberi nama. “baru tahu” pikirnya.

Bagi orang yang menggerutu, kucing yang kadang-kadang berlari-lari ke dekatnya Ia anggap tak ubahnya seperti batu-batu di jalanan. Tetapi bagi orang yang telah menjadi pemelihara kucing, perbedaan warna masing-masing, suara mengeong, lebar matanya, dan panjang kumisnya, Ia anggap itu suatu persamaan yang terdapat dalam kucing.

Dengan tidak memperdulikan perbedaan tiap-tiap kucing, dan dengan persamaan yang terdapat dalam kucing itu sendiri secara abstrak dalam alam pikiran kita dibentuk yang biasa dalam ilmu bahasa disebut “konsep”. Jadi yang disebut “kucing” dapat dikatakan simbol yang dibentuk dalam konsep. Budaya pun demikian sesuatu tindakan-tindakan yang sudah terbentuk di dalam alam pikiran manusia dan diimplementasikan dalam kehidupannya melalui konsep bahasa.

Kalau kita perhatikan, fungsi bahasa itu ada bermacam-macam. Ketika kaki kita terinjak spontan kita katakan “aduh! sakit”. Kemudian yang menginjak spontan pula mengatakan “oh, maaf”. Ini fungsi bahasa yang pertama. Dari kejadian tersebut lahirlah komunikasi antara orang di sekitarnya. Ini fungsi bahasa kedua. “Mie pangsit yang saya makan di kantin kemarin enak sekali rasanya”. Ini fungsi bahasa ke tiga. Meskipun tidak ada “mie pangsit” di depan mata, tetapi kita dapat membayangkan “mie pangsit” dengan konsep yang sudah dibentuk di dalam alam pikiran kita. Dengan pemerolehan fungsi bahasa ke tiga tadi manusi malakukan kehidupannya termasuk menyampaikan warisan kebudayaannya.

Selama tidak ada “di sini, sekarang” itu semua baru konsep dalam alam pikiran. Ini yang perlu kita perhatikan dalam kegiatan berbahasa. “burung beo di rumah saya bisa mengatakan ‘assalamu alaikum’”. Apa yang dapat dibayangkan oleh orang belum pernah melihat burang beo?. Kesadaran akan pemahaman sebuah konsep sangat penting dalam kehidupan berbahasa. Karena keberadaan manusia, keberadaan masyarakat selalu berinteraksi dengan aktivitas bahasa dan ini merupakan satu ikatan yang tidak bisa dipisahkan.

4. Hegemoni Budaya dan Bahasa
Apabila bahasa yang digunakan mampu mengubah suatu kondisi/situasi ke kondisi/situasi yang lain itu adalah misteri kekuatan bahasa. Perwujudan ini dapat dilihat dari kemampuan berkomunikasi secara objektif ketika seseorang lepas dari konteks budaya masyarakatnya.

Mayarakat yang memiliki kekuatan bahasa adalah masyarakat yang selalu menggunakan bahasa. Masyarakat yang menggunakan bahasa untuk kelangsungan hidupnya, dan percaya akan kekuatan itu. Bagi masyarakat yang demikian bahasa benar-benar difungsikan dalam segala aspek kehidupan. Mereka tahu persis bagaimana bahasa mampu mengubah kualitas kehidupannya.

Dewasa ini kita masuk pada era globalisasi. Masyarakat yang masih belum percaya dengan misteri kekuatan bahasa tidak akan mampu mengikuti perkembangan era globalisasi. Masyarakat yang hanya menggunakan bahasa untuk aspek-aspek tertentu saja tidak mungkin dapat menyerap informasi penting dalam era globalisasi. Masyarakat yang tidak mau membuka diri melalui identitas bahasanya sulit untuk berkomunikasi dengan manusi-manusia global. Fenomena ini adalah cikal bakal hegemoni terhadap bahasa.

Bahasa tidak lagi digunakan sebagai alat untuk membangun citra bangsa, atau melestarikan nilai-nilai kebudayaan bangsa. Bahasa diperkosa oleh keangkaramurkaan nafsu manusia. Bahasa itu seperti bayi yang baru lahir. Ia bersih sarat dengan nilai-nilai kesucian. Tinggal roh yang seperti apa yang akan dimasukan ke dalamnya. Kalau dimasukan roh “iblis”, keluarlah bahasa iblis. Kalau dimasukan roh “malaikat” keluarlah bahasa malaikat. Maka dari itu, perlu direnungkan betul bahwa bahasa memiliki kekuatan untuk mengubah segala aspek kehidupan penuturnya bila digunakan sesuai kodratnya. Apa kodrat bahasa? Kodrat bahasa pada hakekatnya adalah kodrat manusia itu sendiri..

Dari uraian di atas, kalau saya kemukakan intinya adalah apa bila terjadi tindakan hegenomi terhadap kebudayaan maka hal itu akan terjadi pula hegenomi terhadap bahasa, karena bahasa merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan itu sendiri. Oleh sebab itu, kesadaran akan kekuatan bahasa dapat digunakan untuk mencegah terjadinya tindakan hegemoni.

5. Penutup
Kita hidup di dalam masyarakat yang dituntut banyak bicara. Tuntutan ini tidak lepas dari kondisi mayarakat kita baik mental, spiritual, atau bahkan mungkin ini sudah menjadi budaya. Banyak berbicara saja masih tidak mengerti, apa lagi kalau tidak banyak bicara. Selain itu karakter bahasa kita memang menuntut dan cocok untuk menjelaskan. Sering kita dengar pertanyaan di akhir pembicaraan, “bagaimana! bapak-bapak dan Ibu-ibu, sudah jelas?”.Mengapa tidak bertanya “sudah mengerti?”. Mungkin kalau bertanya “sudah mengerti?” sungkan dipersepsikan “Lugu” (Lu, guoblog), karena itu banyak orang memilih pertanyaan “sudah jelas?”.

Di Jepang tidak demikian, karena tidak perlu bicara maka mereka tidak bicara. Artinya tidak bicara pun sudah mengerti. Apalagi kalau banyak bicara. Ini terkait dengan budaya dan karakter bahasa itu sendiri. Di bawah ini saya berikan contoh sebuah karakter bahasa Jepang.

“yappari, kono hon omoshirokatta”
(As, I expected, this book was interesting)

Kata “yappari” sebenarnya tidak hanya berpadanan dengan terjemahan pada contoh kalimat di atas. Tetapi dapat pula dipadankan dengan “As you said,___”, atau “As people said___”. Coba perhatikan, ungkapan di atas bagi orang Jepang cukup hanya dengan satu kata “yappari”. Mengapa orang Jepang tidak mengatakan “sesuai dengan papa yang saya harapkan” atau “seperti dikatakan orang-orang”.?. Bagi penutur bahasa Jepang tidak perlu dijelaskan, karena maksud dari bahasa itu sudah dipahami oleh lawan berbicara.

Hegemoni budaya identik dengan hegemoni bahasa. Untuk mencegah tindakan itu, dituntut adanya pengunaan bahasa sesuai dengan hakekatnya. Selain itu mental penutur bahasa sangat berperan terhadap keutuhan kebudayaan dan bahasanya.

Refferensi

-Djodjok Soepardjo. (1999) “Komunikasi dan Hubungan Personal Orang Jepang” dalam Budaya Jepang Masa Kini. Bintang.
-Nancy Bonvillain. (1993) Laguage, Culture, and Communication ~The meaning of Messeges~. Pearson Education LTD. London.
-Neubert, Albert.(1985) Translation Across Language or Across Culture? dalam Scientific and Humanistic Dimension of Language. Kurt R. ed.
-Youko Ujie (1996) Gengo Bunka Gaku no Shiten (Cultural Linguistics). Aufu.
-Susumu Yamauchi (2003) Gengo Kyouiku Gaku Nyuumon, Oyougengo Gaku o Gengo Kyouiku ni Ikasu Taishuukan shouten
-Strinati, Dominic (1995), An Introduction to Theories of Popular Culture, Routledge, London.

Advertisements

November 17, 2008

PUISI-PUISI

Filed under: Puisi — Tags: , , , , , , — soepardjo @ 8:41 am

MenCari KaSih SucI
September 19, 2004

Keindahan mutlak bukan kecantikan
Kesucian cinta bebas dari ikatan penampilan
Kemurnian kasih akan melahirkan ratapan
Keagungan hasrat sembunyi dalam lipatan ketiadaan

Keindahan mutlak ada dalam Zat yang tak tergandakan
Kesucian cinta lahir dari zikir yang penuh kesungguhan
Kemurnian kasih sejalan denga keimanan
Keagungan hasrat memantul dari hati yang penuh keyakinan

Kasih yang suci tak ditumbuhi alang-alang kesombongan
Cinta yang murni tak dihinggapi benalu hawa nafsu
Hasrat yang abadi tak tertutup oleh tirai ridho Ilahi
Selama keihlasan dan kepasrahan kau ukir dalam kalbu

Boneka Karakuri
September 19, 2004

kak….kak…kak……..
burung gagak berteriak lantang
di celah-celah gedung menjulang
hilir mudik riang terbang melayang
dedaunan tampak mulai menguning
lunglai tak kuasa menahan perubahan

boneka karakuri bergerak kaku
menari di atas roda pedati
desing suara seruling mengiring
dentang suara genderang mengiang
boneka karakuri bergerak kaku
menari tanpa ekspresi

senang atau sedih
suka atau duka
tawa atau tangis
bahagia atau sengsara
semua sama saja
boneka karakuri bergerak kaku
menari terikat benang tradisi
sementara semua orang berteriak
demokrasi !!!!!

Mawar yang Hilang
September 19, 2004

Tuhan, mengapa tidak Engkau biarkan
Mawar harapan mekar dalam taman hatiku
Dalam penjagaan rahmatMu dan kekuasaanMu
Hingga taman hatiku indah, semerbak harum wangiMu

Tuhan, mengapa dulu Engkau semaikan
Tunas mawar harapan dalam taman hatiku
Bila kumbang yang lain Engkau izinkan
Mengisap putik sari madu yang Engkau teteskan

Tuhan, Engkau maha tahu dari segala yang tahu
Sejak Engkau renggut kembali mawar harapan itu
Di sekeliling taman hatiku tumbuh bibit kegalauan
Dengan ranting berduri menusuk dinding sanubari

Tuhan, banyak riwayat indah yang dapat kunyanyikan
Namun hambaMu tak mendengar lagi gema melodi
Sebab mawar harapan yang Kau tanam telah pergi
Membawa sekendi anggur bersama seorang Saki

Tuhan, gantikanlah mawar itu dengan lembut kasihMu
Siramilah taman hatiku dengan manis madu cintaMu
Guyurlah kehampaanku dengan air suci ridhoaMu
Agar aku dapat membilas seluruh dosa-dosa padaMu

November 10, 2008

Manusia Banyak Bicara VS Manusia Tidak Mau Bicara

Filed under: Kiat Pandai Berbicara — soepardjo @ 10:12 am

Di zaman demokrasi ini, ”bicara” menjadi bagian dari demokrasi itu sendiri. Baik di tempat kerja, di suatu perkumpulan, atau di tempat rapat,  orang berselisih karena ”bicara”. Rupanya berbicara sudah menjadi bagian performance seseorang. Orang yang tidak mampu berbicara di depan khalayak ramai jangan harap lolos menjadi calon anggota dewan dari suatu partai politik. Memang, dibandingkan masa lalu, dewasa ini hak berbicara relatif bebas. Artinya orang lebih bebas menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya. Coba perhatikan, kita sering melihat tayangan TV yang menyiarkan acara diskusi atau debat untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Bahkan yang bukan permasalahanpun diperdebatkan hanya untuk memanfaatkan kebebasan berbicara.

 

Di balik kenyataan tersebut di atas, akhir-akhir ini dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat keadaan sebaliknya. Semakin banyak orang yang tidak mau bicara, bermuka judes, bahkan untuk mengucapkan kata-kata “salam” yang sederhana sekalipun tampak enggan. Di rapat-rapat, atau pertemuan-pertemuan mereka berbicara banyak, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, mereka tampak enggan menjawab salam atau memberi salam yang pendek. Tampaknya keramahan antar individu menjadi kurang harmonis. Lagi pula  semakin banyak orang yang tertular penyakit AIDS (Angkuh, Iri, Dengki, dan Sombong). Penyakit yang sangat berbahaya dan susah disembuhkan.

 

Beberapa waktu yang lalu saya melakukan perjalanan dinas ke kota kembang. Sengaja saya menggunakan KA Turangga. KA Turangga tersebut rupanya dicarter oleh beberapa rombongan. Saya mendapat tempat duduk paling belakang di sebuah gerbong KA tersebut. ”Tidak apa deh.., toh paling selama perjalanan tidur”. Benar juga setelah saya mencari posisi enak, saya tertidur nyenyak. Satu jam kemudian, terasa ada benda keras di pangkuan saya. Saya dibuatnya kaget, dan terbangun gelagapan. Saya perhatikan ternyata sebuah baki untuk makan yang disodorkan oleh seorang pramugari KA tersebut. Herannya baki tersebut hanya berisi sebuah pisang kecil, selembar tishu kecil, dan sebungkus kerupuk kecil. Semua memang serba kecil. Tidak lama berselang, datang pramugari yang tadi membawa baki tersebut. Kini Ia menenteng termos nasi dan centong penyiduk nasinya. lagi-lagi, rupanya Ia sedang membagikan nasi kepada tiap penumpang. Yang tidak habis pikir,  Ia tidak berbicara apapun. Ia hanya menyodorkan nasi goreng yang diciduknya dari dalam termos nasi  ke dalam baki setiap penumpang. Melihat kondisi seperti itu, selera makan menjadi tidak enak, dan akhirnya sibaki saya masukkan ke bawah kursi dan tidur lagi.

Di tempat belanja pun demikian, SPG yang cantik-cantik menawarkan barang yang dijaganya dengan ragu-ragu. Ada juga SPG yang hanya mentelengi pengunjung di tempat perbebelanjaan tersebut. Mereka tidak segera menanyakan apa yang bisa dilakukan agar para pembeli dapat belanja dengan nyaman. Heran… akhir-akhir ini semakain banyak orang yang enggan berbicara. Malah lebih banyak orang yang nggremeng sendiri, tertawa sendiri. Kalau ditanya kenapa Ia tertawa sendiri?. ”saya teringat sms yang baru saya terima”, Jawabya. E,… alaa..gara-gara sms ta!. Yang lebih perlu dikasihani adalah orang yang kesepian dalam keramaian. Maksudnya dalam keramaian ia asyik sms-an. Tidak lagi menghiraukan orang-orang disekitarnya. Kalau yang satu ini sudah tidak menghargai lagi pergaulan. Bagai mana menurut Anda..?

Menurunnya Jumlah Anak-anak dan Meningkatnya Jumlah Usia Lanjut di Jepang

Filed under: Serba-serbi Jepang — Tags: , , , , — soepardjo @ 7:35 am

Masalah yang sedang dihadapi Jepang dewasa ini adalah Shoushi Koureika. Yang disebut Shoushi Koureika adalah kondisi berkurangnya anak-anak dan bertambahnya jumlah usia lanjut. Berkurangnya jumlah anak-anak di Jepang sebagai akibat peran kaum perempuan di dalam masyarakat Jepang yang semakin baik. Disamping itu kaum perempuan merasa kesulitan untuk memilih kodratnya sebagai ibu rumah tangga dengan tugas mendidik anak atau berkarier. Mereka tampaknya lebih memililih bekerja sehingga mereka tidak mau melahirkan bahkan semakain banyak kaum perempuan yang tidak mau menikah. Dewasa ini di jepang, jumlah kaum perempuan yang seumurhidupnya tidak ingin melahirkan rata-rata 1.34%.

Kemudian masalah usia lanjut, usia rata-rata orang Jepang untuk laki-laki 79 tahun sedangkan perempuan 85.8 tahun. Sehingga jumlah usia rata-rata orang Jepang 82.4 tahun. Dewasa ini rara-rata tertinggi usia di dunia diduduki oleh Jepang. Untuk memberikan jaminan kepada orang-orang usia lanjut agar mereka panjang usia, seperti jaminan kesehatan, kesejahtraan, perawatan, dan lain-lainnya, diperlukan biaya yang sangat besar. Ini menjadi tanggung jawab generasi yang masih bekerja. Pada tahun 2000, untuk memberikan jaminan pada 1 orang usia lanjut diperlukan 4 orang bekerja aktif. Kemungkinan pada tahun 2025, untuk memberikan jaminan pada 1 orang usia lanjut diperlukan 2 oarang bekerja aktif. Dari sini dapat dilihat adanya kontradiksi antara semakin menurunnya jumlah anak-anak yang akan menyebabkan semakin berkurangnya penduduk bekerja dengan semakin meningkatnya angka usia lanjut yang memerlukan bantuan jaminan sosial. Jelaslah kalau Jepang menjadi pusing tujuh keliling.

Untuk mencari jalan keluar dari masalah ini Jepang memerlukan banyak kawan. Jepang mulai bermesraan dengan Indonesia dengan membuat perjanjian EPA (Economic Partnership Agreement), yang subtansi kesepakatannya yaitu Jepang akan menerima tenaga kerja perawat dari Indonesia. Di dalamnya dijelaskan bahwa dalam kurun waktu 2 tahun, Jepang akan menerima 400 orang tenaga pereawat medis, dan 600 orang tenaga perawat untuk usia lanjut (elderly nurse). Dalam kurun waktu 2 tahun, Jepang akan menerima 1000 orang perawat dari Indonesia. Pada tahap awal sudah dilakukan pendaftaran untuk memenuhi kebutuhan 200 orang tenaga perawat medis dan 300 orang tenaga perawat untuk usia lanjut. Syarat untuk dapat diterima sebagai perawat di Jepang cukup sulit. Untuk tenaga perawat medis, harus memiliki sertifikat perawat (lulus dari Akademi Perawat atau memiliki ijazah dari Fakultas Ilmu Perawat yang ada di Universitas). Mereka juga harus memiliki surat keterangan telah berpengalaman bekerja sebagai perawat selama 2 tahun lebih. Sedangkan untuk tenaga perawat usia lanjut mereka harus memiliki ijazah Sekolah Perawat atau Fakultas Ilmu Perawat yang ada di sebuah Universitas. Mereka juga harus memiliki sertifikat telah mengikuti training sebagai perawat untuk usia lanjut selama 6 bulan yang diterbitkan oleh pemerintah dan semua pembiayaan kegiatan tersebut ditanggung oleh pihak Jepang. Setelah datang di Jepang mereka akan mengikuti training bahasa Jepang, keperawatan, atau keperawatan untuk usia lanjut. Setelah itu baru di salurlan kerumah sakit atau panti-panti Jompo sebagai asisten perawat atau home help. Setelah itu mereka diharuskan mengikuti ujian sertifikasi perawat yang diselengarakan pemerintah Jepang. Kalau mereka lulus, mereka dapat bekerja sebagai perawat medis atau perawat usia lanjut. Waktu untuk mendapatkan sertifikat untuk perawat medis 3 tahun dan perawat usia lanjut 4 tahun. Akan tetapi bagi perawat usia lanjut yang akan mengikuti ujian sertifikasi negara, karena diwajibkan punya pengalaman bekerja sebagai perawat usia lanjut selama 3 tahun, maka mereka hanya boleh mengikuti ujian 1 kali. Sedangkan bagi perawat medis boleh mengikuti ujian sampai 3 kali. Bila mereka gagal mendapatkan sertifikat selama berada di Jepang, mereka harus kembali ke Indonesia.

Tentang Kondisi Perawat Medis di Jepang

Menurut survei Departemen Kesehatan dan Tenaga Kerja, kebutuhan perawat medis pada tahun 2007 mencapai 1.340.000 orang. Dari jumlah tersebut dapat dipenuhi sebanyak 1.300.000 orang Untuk memenuhi quota kebutuhan perawat medis di Jepang masih dibutuhkan 40.000 orang perawat. mantan perawat medis (yang bekerja sebagai perawat secara tersembunyi) yang melepas pekerjaannya karena harus mengurusi anaknya berjumlah 55.000 orang lebih. Menurut survei Asosiasi Perawat Jepang, perawat yang bekerja secara tersembunyi tidak dapat kembali bekerja. Alasannya adalah mereka enggan bekerja sif pada malam hari. Selain itu, karena banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan seorang perawat sehingga melebihi kapasitas dan kapabilitasnya. Alasan lain adalah karena belum berkembangnya sistem penitipan anak. Mereka merasa sulit untuk memilih pekerjaan atau mengurusi anak. Walaupun mau kembali bekerja, mereka merasa kesulitan mengikuti perkembangan tekhnologi dunia medis yang semakin canggih.

Dari survei yang telah dilakukan, dengan memberikan angket kepada 552 rumah sakit, 80% merespon positif terhadap rencana mendatangkan tenaga perawat medis dari negara asing. Dari 80% tersebut 37.6 % atau 196 rumah sakit, mengatakan siap menampung. Sedangkan 61.3% tidak ingin menampung karena alasan khawatir terhadap kemampuan berkomunikasi antara perawat dengan pasiennya. Sedangkan 55.7% tidak ingin menampung karena alasan perlu waktu dan tenaga untuk membimbing para perawat. Sisanya sekitar 46.4% tidak ingin menampung karena alasan tidak tahu level perawat dari negara asal.

Tentang Kondisi Perawat untuk Usia lanjut di Jepang

Syarat pekerjaanya cukup keras, kebanyakan bekerja di malam hari seperti membantu memandikan pasien. Oarang yang berhenti dari perawat orang jompo biasanya disebabkan depresi, sakit pinggang dan lain-lain. Mereka merasa tidak sanggup lagi bekerja.Yang lebih fatal lagi, bekerja menjadi perawat orang jompo menyebabkan meningkatnya persentase perceraian di Jepang (20.2%).

Jumlah perawat untuk usia lanjut dewasa ini ada 1.100.000 orang. Dengan meningkatnya jumlah usia lanjut yang sangat pesat, dalam kurun waktu 10 tahun mendatang diperkirakan keperluan perawat untuk usia lanjut akan bertambah hingga 400.000 sampai 600.000 orang.

Pengiriman perawat untuk usia lanjut dan perawat medis, dari jumlah 226 orang terdiri dari perawat medis untuk 47 sejumlah 112 orang dan perawat usia lanjut untuk 55 institusi sejumlah 114 orang. Sejak tanggal 1-5 Agustus tahum ini telah dilaksanakan orientasi di Jakarta, kemudian taggal 7 Agustus telah diberangkatkan ke jepang. Pendaftaran berikutnya dilaksanakan melalui ujian pada bulan Januari tahun depan. Pada bulan April rencanyanya telah dijadualkan diterima di Jepang. Sedangkan Jumlah peserta akan ditentukan setelah ada kesepakatan dengan pemerintah Indonesia.

Dewasa ini, karena terdapat orang yang bekerja dan mendidik anak, maka dirasakan perlu adanya bantuan pendidikan anak dari Perusahaan. Di Jepang, sampai anak masuk SD ada tunjangan pendidikan anak sebesar 300.000 yen/tahun. Tunjangan tersebut pemnggunaannya tidak dibatasi. Uang tersebut dapat digunakan membayar baby siter atau membayar ongkos taxi bila ada keperluan mendadak ke TK. Tunjangan melahirkan dan tunjangan pendidikan anak sebesar 400.000 yen. Karyawan juga dapat mengatur sendiri jam kerja kapan mulai dan kapan berakhir melalui sistem kerja. Dengan sistem ini bila hanya 1 menit saja seseorang berada di perusahaan berarti Ia harus dinyatakan masuk perusahaan. Ada juga perusahaan yang menyediakan jasa penitipan anak untuk karyawannya. Tujuannya adalah mempertahankan karyawan yang memiliki prestasi baik agar tidak keluar disamping membantu memelihara pendidikan anaknya.

Kemudian, Jepang juga sedang menghadapi krisis kekurangan dokter. Terutama dokter anak dan dokter kandungan. Ada pendapat bahwa kekurangan dokter anak merupakan ancaman yang serius. Dokter anak waktunya sangat terikat. Mereka banyak mendapatkan panggilan darurat di tengah malam. Terutama aturan-aturan praktis di tempat bekerja dokter anak semakin bertambah dan menyebabkan tanggung jawab yang harus dipikul menjadi bertambah pula. Banyak terjadi di Jepang, rumah sakit kecil menolak pasien anak-anak dan dirujukkan ke rumah sakit yang lebih besar. Kondisi kekurangan dokter anak seperti ini secara pshikologis sangat berpengaruh pada ketenangan dan harapan para ibu dalam melahirkan dan mendidik anak-anaknya. Tidak mustahil pula berdampak besar terhadap kondisi kurangnya anak-anak di Jepang.

Kalau kita memikirkan masyarakat usia lanjut di Jepang, penerimaan perawat medis atau pun perawat usia lanjut dari luar negeri dirasakan sangat mendesak. Bahkan penerimaan tersebut secara kuantitas perlu ditingkatkan. Terlepas dari itu, kehadiran perawat dari Indonesia yang cantik-cantik, sudah pasti akan memberikan motivasi bagi para pasien orang Jepang untuk lebih cepat sembuh.

November 4, 2008

Untuk Direnungkan

Filed under: Foklor Jepang — Tags: , , — soepardjo @ 7:59 am

TIP MENUJU KEBERHASILAN ALA JEPANG

Cerita berikut adalah gambaran cara berpikir seseorang yang berambisi untuk sukses dalam hidupnya. Cara ini umumnya disebut teori ”Warashibe Choujya” atau dapat dikatakan teori cara pandang seseorang terhadap sesuatu hal.

Penting bagi kita untuk mengubah secara akurat mengenai persepsi kita akan nilai sesuatu hal. Karena jika tidak mampu mengubah cara pandang tersebut, maka sampai kapanpun kita tidak akan pernah maju.

Dalam kesempatan ini saya akan memperkenalkan sebuah cerita foklor Jepang yang berjudul ”Warashibe Choujya”.

Di Jepang, cerita rakyat yang berjudul Warashibe Choujya sangat terkenal baik di kalangan anak-anak atau pun orang dewasa. Ini adalah cerita seorang pemuda yang sukses dalam hidupnya setelah memungut sebatang jerami di pinggir jalan. Kemudian pemuda itu menangkap se-ekor lalat buah yang kemudian diikatkannya di ujung jerami yang ia pungut. Setelah itu, dia menukar lalat buah denan jeruk, lalu menukar jeruk dengan kain sutera, menukar kain sutera dengan kuda, dan terakhir ia menukar kudanya dengan istana sehingga ia pun menjadi seorang saudagar kaya raya. Suatu cerita yang berakhir dengan kebahagiaan.

Jika kita melihat dengan cara pandang yang biasa, ini adalah cerita kesuksesan seorang pemuda yang dengan gampangnya menukar barang yang ia miliki dengan benda berharga, kemudian akhirnya menjadi kaya raya. Tetapi, marilah kita merenung sejenak membayangkan seorang pemuda dan para pemilik jeruk, kain sutra, kuda dan istana. Mengapa mereka mau menukar benda benda miliknya dengan benda yang harganya lebih rendah?

Sebenarnya, rendahnya nilai sesuatu bergantung pada sudut pandang terhadap benda tersebut. Kita melihat dari sisi si pemuda, lebah tidak lebih penting dari jeruk. Tetapi jika kita melihat dari sisi seorang anak yang menginginkan sebuah mainan, lebah lebih penting dari pada jeruk. Sama keadaannya jika kita memandang dari sisi orang yang kehausan, jeruk lebih penting dari pada kain sutra, dan kain sutera lebih peting dari pada kuda tak berdaya, kuda lebih penting dari pada istana, dst. Di sini, telah berlaku hukum relatifitas suatu harga, sehingga terjadilah persamaan cara pandang. Persamaan cara pandang ini jika kita gunakan/terapkan dalam kehidupan sehari hari dan dalam dunia bisnis, kita pasti akan kayan raya (berhasil).

BAGAIMANA MENCAPAI SUKSES ?

Untuk memperoleh sukses, kita dapat memulai dengan mengupulkan sukses-sukses kecil. Jangan lalai membuat perencanaan. Perencaanan penting untuk menentukan arah yang akan dicapai. Misalnya;

Si X pada hari libur besok bermaksud akan memancing ikan kakap merah.

Untuk memancing ikan kakap, sebaiknya menggunakan kapal nelayan dari pada memancing sambil duduk di atas batu karang. Kapal nelayan berangkat pukul 6 pagi dari salah satu pelabuhan. Agar dapat naik kapal nelayan tersebut, si X harus berangkat dari rumah paling lambat pukul 5 pagi.

Untuk dapat berangkat dari rumah pukul 5 pagi, dan paling lambat Ia juga harus bangun pukul 4 pagi.

”Hah! pukul 4…!. Berarti, malam ini tidak bisa bergadang dan harus tidur lebih cepat dari seperti biasanya.”

Bagaimana kawan ? Cerita ini adalah suatu gambaran bahwa untuk mencapai tujuan yang paling utama, kita harus melihat secara utuh seluruh unsur yang mendukung ketercapaian tujuan tersebut.

Kegagalan mencapai tujuan utama sangat berhubungan erat dengan kondidi kita saat sekarang dan yang lalu (lampau). Tindakan apa yang harus dilakukan pada saat sekarang agar mencapai tujuan di masa depan, harus dipraktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal ini dapat kita coba dalam rencana kehidupan kita sehari-hari.

Jika tidak keburu naik kapal nelayan karena waktu keberangkatan ke pelabuhan terlambat, berarti kita hanya dapat memancing ikan dari dinding batu karang. Jika memancing ikan dari tempat seperti itu, kecil harapan kita untuk mendapatkan ikan kapap sebagai tujuan utama memancing, bahkan tidaklah heran kalau kita tidak mendapatkan ikan sama-sekali.

CERITA RAKYAT JEPANG “WARASHIBE CHOUJYA”

Pada zaman dahulu kala, di suatu tempat, tinggallah seorang laki-laki yang jujur tetapi selalu jauh dari keberuntungan. Sejak pagi hari hingga larut malam Ia bekerja dengan tekun. Tetapi tetap miskin dan tidak kunjung mendapat keberuntungan.

Pada suatu hari, sebagai usaha terakhirnya, lelaki itu tanpa makan dan minum, berdo”a kepada Dewa keberuntungan.

Kemudian, saat hari mulai gelap, Dewa keberuntungan muncul di hadapannya dan berkata; ”Bergulinglah pada saat engkau ke luar dari kuil ini, dan ambillah sebuah benda, kemudian bawalah pergi benda teresebut ke arah barat”. Tentu saja lelaki itu mematuhi perkataan sang Dewa. Saat hendak ke luar dari kuil, Ia pun menjatuhkan diri dan berguling-guling, kemudian menangkap sesuatu yang ternyata sebatang jerami. Dia merasa jerami itu tidak akan ada gunanya tetapi Ia tetap berjalan ke arah barat membawa jerami itu. Kemudian se-ekor lalat buah terbang menghampirinya. Lelaki itu menangkap lalat tersebut dan mengikatnya diujung jerami. Ia melanjutkan perjalanannya lagi. Ketika Ia tiba di kota, tiba-tiba ada seorang bayi berhenti menangis saat melihat lalat buah yang terikat di ujung jerami yang Ia bawa. Melihat bayi itu begitu gembira, maka lelaki itu pun memberikan jeraminya ke pada bayi tersebut. Sebagai gantinya lelaki itu memperoleh tiga buah jeruk dari ibu sang bayi.

Lelaki itu melanjutkan lagi perjalanannya ke arah barat dengan tetap membawa ketiga buah jeruknya. Tidak lama kemudian dia melihat seorang perempuan yang sedang sekarat karena kehausan. Lelaki itu pun memberikan jeruk ke padanya. Setelah makan jeruk keadaan perempuan itu membaik. Sebagai gantinya lelaki itu menerima kain sutera yang sangat cantik dari perempuan tersebut.

Lelaki itu melanjutkan lagi perjalanannya ke arah barat denan membawa kain suteranya yang ia perolah sebagai penggati jeruk. Tidak lama kemudian dia bertemu seorang samurai menuntun kudanya yang sedang sakit. Saat melihat sutera yang indah yang dibawa lelaki itu, samurai berkata bahwa Ia ingin menukar sutera itu dengan kudanya yang sakit. Samurai tadi melanjutkan perjalanannya ke arah timur membawa kain sutera, sedangkan lelaki itu merawat kudanya sepanjang malam, dan saat menjelang pagi kuda tersebut sehat kembali.

Lelaki itu melanjutkan lagi perjalanannya ke arah barat membawa kudanya. Tibalah Ia di kota tempat para saudagar berkumpul. Seorang saudagar kaya tertarik saat melihat kuda milik lelaki itu. Lelaki itu diundang ke rumah sang saudagar kaya tersebut. Anak perempuannya datang membawakan teh untuk sang saudagar kaya dan lelaki itu. Ternyata, Dia adalah perempuan yang pernah diberi jeruk oleh lelaki itu. Sang saudagar terkesan akan pertemuan yang menakjubkan ini dan terketuk hatinya oleh kebaikan hati sang pemuda. Ia pun memutuskan untuk menikahkan anak perempuannya dengan lelaki itu.

Seperti yang dikatakan oleh dewa keberuntungan, lelaki itu bisa menjadi kaya dengan satu batang jerami. Selama hidup ini tidak ada hal yang sederhana sekalipun yang dapat dilakukannya dengan sebatang jerami. Penduduk desa menamakan kisah ini dengan nama “Warashibe Choujya” (Saudagar Jerami).

October 28, 2008

Komunikasi Interkultural dalam Pendidikan Bahasa Jepang

Filed under: Makalah — Tags: , , , , — soepardjo @ 10:08 am

KOMUNIKASI INTERKULTURAL

DALAM PENDIDIKAN BAHASA JEPANG

Oleh : Djodjok Soepardjo

Abstrak

Pada hakekatnya tujuan akhir pendidikan bahasa Jepang adalah pembelajar mampu berbicara dalam bahasa Jepang, mampu memahami kalimat yang ditulis dalam bahasa Jepang, dan mampu mengekpresikan dengan benar isi komunikasi yang ingin disampaikan kepada lawan bicara baik secara tertulis ataupun lisan. Artinya, pembelajar diharapkan menguasai 4 kompetensi berbahasa secara integritas yaitu; membaca, menulis, mendengar, dan berbicara dalam bahasa Jepang. Tetapi; seiring dengan perkembangan pendekatan pembelajaran bahasa asing, pendekatan pembelajaran bahasa Jepang sebaiknya juga diarahkan pada pendekatan 5 C (Communication, Culture, Conections, Compharisons, Communities) Dengan begitu, kompetensi komunikasi yang integritas sangat mungkin akan dikuasai oleh pembelajar bahasa Jepang.

Pendahuluan

Baik disadari maupun tidak, sering kali kita mengucapkan kata budaya, culture. Akan tetapi, bila dimintai penjelasan tentang definisi kata tersebut, sedikit sekali orang yang tahu dengan baik.

Kata budaya, dapat dijelaskan dari dua sudut pandang. Yang pertama, budaya dapat dijelaskan dari sudut pandang antropologi budaya, dan yang kedua dari sudut pandang psikologi. Artinya, budaya dapat dijelaskan melalui sebuah sistem dan bagaimana hubungannya dengan pribadi seseorang.

Definisi budaya yang dikaitkan dengan prinsip komunikasi interkultural tidak termasuk di dalam keduanya. Seperti dikatakan Watanabe (1995), definisi budaya yang dikaitkan dengan prinsip komunikasi interkultural akan berbeda tergantung dari sudut mana melihatnya. Istilah budaya yang dikaitkan dengan prinsip komunikasi interkultural, dapat dilihat secara mikro atau secara makro. Bahkan menurut Watanabe(1995), dapat pula dilihat dari keduanya secara dinamis.

Untuk menjelaskan definisi komunikasi interkultural, perlu dijelaskan lebih dahulu apa yang disebut “budaya” kaitannya dengan komunikasi interkultutral. Berhubungan dengan orang lain, pemahaman terhadap nilai-nilai, cara pandang terhadap waktu, cara berkomunikasi, cara bekerja, hal-hal yang kasat mata seperti halnya udara yang ada di sekitar kita, itu semua merupakan hakekat dari kebudayaan.

Tampaknya sangat sederhana, tetapi penulis berharap apa yang dipaparkan berikut dapat menggugah kesadaran kita. Kadang kita merasa heran, ketika dihadapkan pada kenyataan, dan perasaan kita mengatakan, betapa mencoloknya perbedaan antara diri kita dengan orang lain. Haruslah disadari, bahwa semua hal yang demikian, pada dasarnya dipengaruhi oleh kebudayaan, bahkan itulah hakekat kebudayaan. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa, komunikasi interkultural didasarkan pada pertemuan antara perseorangan.

Kebanyakan orang beranggapan, bahwa komunikasi interkultural adalah komunikasi yang terjadi antara orang yang berasal dari negara yang berbeda. Kenyataannya memang benar, melakukan komunikasi dengan orang yang berasal dari negara yang sama lebih mudah dibandingkan melakukan komunikasi dengan orang yang berasal dari negara yang berbeda. Akan tetapi, bila dicermati, berbagai peristiwa di tanah air kita, bentrokan antara suku, kericuhan antara kampung, itu mencerminkan adanya perbedaan pola pikir, cara pandang terhadap phenomena kehidupan di antara golongan masyarakat. Padahal, peristiwa tersebut terjadi di antara orang-orang yang berasal dan berada di negara yang sama. Oleh sebab itu, dasar komunikasi interkultural sebenarnya diawali dari pertemuan antarpersonal (satu orang lawan satu orang).

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengetahui siapa diri kita. Kita juga tidak mungkin hidup tanpa orang lain. Dalam menjalin hubungan dengan orang lain, kadang-kadang kita dibuat tidak mampu untuk menghindari kesalahpahaman, padahal kita masih dalam satu wilayah. Diikat oleh janji yang bagi sebagian orang “janji-janji tinggal janji”. Sedangkan nilai janji itu sangat agung, satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia. Begitulah janji itu bunyinya.

Dapat dibayangkan bila kita berkomunikasi dengan orang-orang dari bangsa lain yang bahasa, budaya, dan pola berpikirnya berbeda. Sudah barang tentu lebih rumit dibandingkan dengan bangsa yang sama, karena akan dituntut mampu memahami pola pikir, budaya, bahkan sistem komunikasi mereka. Oleh sebab itu, pemahaman kode-kode kebahasaan, baik verbal ataupun non verbal sangatlah penting untuk keberhasilan proses berkomunikasi yang baik, benar, dan tepat.

Dalam makalah ini penulis akan memberikan gambaran, betapa pentingnya pemahaman prinsip-prinsip komunikasi interkultural. Semoga dapat memberikan masukan bagi pembelajar bahasa Jepang.

2. Mengapa “Komunikasi Interkultural”

Menurut Samover (1981), komunikasi interkultural terjadi ketika pengirim pesan dan penerima pesan berlatarbelakang budaya yang berbeda. Gudykunt, Kim (dalam Atsuko, Tokui. 2002:15) mendefinisikan komunikasi interkultural adalah proses abstrak dan aktivitas terpadu dan pemaknaan dalam komunikasi yang dilakukan antara orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda. Sedangkan Yasshiro, dkk.(1998) menjelaskan bahwa komunikasi interkultural yang ideal digambarkan bila orang-orang yang terlibat dalam koimunikasi melakukan interpretasi makna pesan, mengumpulkan informasi, dan melakukan pertukaran informasi tersebut untuk saling menghormati, dan bekerjasama untuk saling menguntungkan.

Komunikasi interkultural (intercultural communication) pada umumnya dipakai dalam situasi komunikasi secara langsung antara orang-orang yang memiliki budaya berbeda. Sedangkan komunikasi lintas budaya (Cross Cultural Communication) digunakan untuk situasi komunikasi tertentu dan dibandingkan dengan beberapa kebudayaan. (Atsuko, Tokui. 2002:16).

Untuk memudahkan tercapainya komunikasi interkultural, penting diketahui, sejauh mana orang-orang yang terlibat dalam komunikasi mengetahui pribadinya masing-masing. Banyak orang yang berusaha mengetahui orang lain tapi tidak banyak orang yang berusaha mengetahui dirinya. Berikut akan dijelaskan beberapa langkah dasar untuk meningkatkan kemampuan komunikasi interkultural terutama tentang pemahaman diri sendiri.

3. Mengenal Diri Sendiri

Apa yang akan Anda katakan jika Anda ditanya “Siapa diri Anda?”. Jawaban Anda tentu bermacam-macam. “Saya seorang pendiam”, “Saya seorang yang suka membantu orang lain”, “Saya seorang penakut”, “Saya dosen bahasa Jepang”, dan masih banyak lagi jawaban yang dapat Anda pilih. Akan tetapi, apakah jawaban itu telah mencerminkan diri Anda yang sesungguhnya?. Pernahkah Anda tercengang, ketika tiba-tiba orang terdekat Anda mengatakan, “Sungguh Anda seorang pemberani”, “Anda pengecut”.

Dalam diri Anda, ada bagian yang Anda ketahui. Disamping itu, ada pula, bagian yang tidak ingin diketahui orang lain. Hal ini sering terjadi ketika Anda berhadapan dengan orang yang baru saja Anda kenal. Dalam situasi seperti itu, tidak mungkin Anda membeberkan tentang diri Anda kepadanya. Kalau itu terjadi pada Anda, tentu Anda akan menjadi bahan cemoohan. Anda akan dikatakan “orang aneh”, “orang yang banyak bicara”, dan lain-lain.

Permasalahannya, apa kira-kira yang akan Anda pilih sebagai tema pembicaraan ketika Anda bertemu dengan seseorang untuk pertama kailinya?. Apakah Anda akan memilih tema tentang “usia Anda”, “pekerjaan Anda”, “hobi Anda”, atau tentang “keluarga Anda”. Yang pasti, dalam diri Anda ada bagian yang terbuka dan ada bagian yang tertutup. Menurut Atsuko, Tokui (2002:19), bagian yang terbuka atau yang dapat diutarakan kepada orang lain disebut self commencement atau jikokaishi (keterbukaan diri). Untuk melihat sejauh mana “keterbukaan diri” dan “ketertutupan diri” seseorang, Luft, Joshep & Ingham, Harrington, (1955) membuat bagan yang dikenal dengan nama Johari Window (Johari Mado).


Johari window yang berbentuk kanji 「田」di atas, dilihat secara vertical, bagian kotak sebelah kiri dan sebelah kanan masing-masing menunjukkan bagian yang diketahui diri sendiri dan bagian yang tidak diketahui diri sendiri. Kemudian, dilihat secara horizontal, dalam gambaran diri sendiri tersebut terdapat bagian yang “diketahui orang lain”dan “tidak diketahui orang lain”.

Masing-masing kotak dari kiri ke kanan diberi nomor , , , dan . Kotak menunjukkan bagian yang diketahui baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain. Kotak menunjukkan bagian yang tidak diketahui oleh diri sendiri, tetapi tidak diketahui oleh orang lain. Kotak menunjukkan bagian yang diketahui diri sendiri, tetapi orang lain tidak tahu. Sedangkan kotak ialah bagian yang tidak diketahui baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain. Dengan demikian, apabila makin besar bagian kotak , yaitu bagian yang diketahu baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain, maka “keterbukaan diri” atau jikokaishi seseorang akan semakin besar pula. Dapat dibayangkan, apa yang akan terjadi bila komunikasi berlangsung, katakanlah antara Mr. Wise dan Mr. Rich yang masing-masing besar bagian keterbukaan dirinya berbeda. Misalnya, Mr. Wise memiliki kotak lebih besar dibandingkan dengan Mr. Rich. Dalam situasi seperti ini, Mr. Rich akan menganggap Mr. Wise adalah “orang yang banyak ngomong tentang dirinya”. Sedangkan Mr. Wise akan menganggap Mr. Rich “seorang yang memiliki sifat pendiam”. Tidak jarang perbedaan persepsi antara keduanya menimbulkan kesalahpahaman. Apa lagi kalau terjadi pada dua orang yang baru saja saling berkenalan. Kondisi seperti ini tidak jarang menimbulkan kesan yang kurang baik di antara pelaku komunikasi.

Bhanland (1979) mengatakan, “keterbukaan diri” ketika berkomunikasi dengan orang lain disebut koutekijiko (keterbukaan diri). Sedangkan “ketertutupan diri” dinamakan shitekijiko (ketertutupan diri). Bila dua tipe manusia seperti ini melakukan komunikasi, sudah dipastikan akan melahirkan kesalahpahaman.

Akan tetapi, Johari Window seseorang tidak statis, melainkan berubah berdasarkan kondisi, situasi, dan tempat terjadinya komunikasi tersebut. Sehingga, bagaimana sebaiknya seseorang membuka dirinya kepada lawan komunikasinya, akan tergantung pada siapa, di mana, kapan terjadinya komunikasi tersebut.

Seorang dosen yang ingin melihat jikokaishi mahasiswanya, yang datang berkonsultasi tentang permasalahan yang dihadapinya, sebaiknya selalu memperhatikan urutan-urutan pertanyaan yang diajukan kepada mahasiswanya. Miller & Steinberg (1975) menyarankan urutan-urutan pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang mendorong orang membuka dirinya. Misalnya, dengan bertanya tentang “keadaan cuaca” atau “kebiasaan makan”. Kemudian meningkat pada “pekerajaan” atau “organisasi”, seperti sekolah, perusahaan, peranan seseorang dalam keorganisasian. Setelah itu dapat ditingkatkan pada pertanyaan tentang “cara berpikir” atau “pendapat” lawan komunikasi. Dalam kegiatan komunikasi, kita sering kali memilih tema pembicaraan secara serabutan. Padahal, idealnya kita memperhatikan urutan-urutan tersebut.

4. Komunikasi dan Keterbukaan Diri

Kalau Anda seorang guru atau dosen, tentu pernah punya pengalaman didatangi siswa atau mahasiswa untuk berkonsultasi. Coba ingat kembali, bagaimana cara Anda mendengarkan keluhan atau menjawab pertanyaan dari mereka?. Pernahkan Anda menjawab tanpa lebih dulu mendengarkan mereka berbicara secara tuntas?. Untuk mendengarkan pembicaraan orang yang sedang membuka dirinya, sebaiknya tidak mengajukan pertanyaan yang menyebabkan lawan bicara menutup diri. Pertanyaan yang membuat lawan bicara menutup diri adalah pertanyaan yang mengundang jawaban seperti “Hai” atau “Iie”. Coba bandingkan pertanyaan berikut dibawah ini.

会話例「質問があるの」

(Ada pertanyaan?)

「はい(もっと言いたいけど、これ以上は言えないなあ)」

(Ya, “aku ingin bicara lebih banyak, tapi kayaknya gak mungkin aku bicara lebih dari ini”)

会話例「どうしたの?」

(Apa yang telah terjadi?)

「実は、勉強のことで悩んでいるんです」

(Sebenarnya, saya bingung dengan masalah belajar). (Atsuko, Tokui. 2002:22).

Pertanyaan pada percakapan adalah pertanyaan tertutup, sedangkan pertanyaan pada percakapan adalah pertanyaan terbuka. Oleh karena itu, lawan komunikasi akan lebih membuka dirinya bila diberi pertanyaan 「どうしたの?」dari pada pertanyaan 「質問があるの?.

Menurut Atsuko, Tokui (2002:23), seorang guru atau dosen sebaiknya tidak menyampaikan kata-kata yang seolah-olah menghibur lawan komunikasinya seperti, kata-kata 「大丈夫よ、頑張って」. Mengapa demikian? Karena sebenarnya, belum tentu lawan berbicara kita meminta solusi terhadap masalah yang dibicarakannya. Mungkin saja mereka hanya ingin didengarkan. Di samping itu, kata-kata seperti tersebut di atas menutup kemungkinan mereka, untuk menutup apa yang ingin disampaikannya, serta akan menjadi beban bagi mereka.

Dari penjelasan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa cara berkomunikasi akan sangat berpengaruh pada keterbukaan diri.

5. Kesulitan Komunikasi Dalam Bahasa Jepang.

Pertama-tama penulis ingin mengemukakan beberapa kesulitan komunikasi dalam bahasa Jepang. Tingkat kesulitan yang dialami oleh seorang penutur bahasa Jepang (berikutnya dipakai istilah nihongojin) dengan nihongojin lainnya, akan berbeda tergantung pada tingkat kemampuan penguasaan speech acts dari nihongojin tersebut. Akan tetapi, ada baiknya penulis kemukakan di sini, beberapa kesulitan yang umum untuk dijadikan bahan pemikiran. Lihatlah gambar berikut.

Anda akan dapat memahami kesulitan berbahasa Jepang bila mencoba membuat cerita berdasarkan gambar tersebut. Pertama-tama, buatlah cerita dalam bahasa Jepang. Kemudian, buat juga cerita dalam bahasa Indonesia atau bahasa Ibu Anda. Bandingkan hasilnya, kekhawatiran dan perasaan stress Anda akan berbeda ketika bercerita dalam kedua bahasa tersebut

Ilustrasi 1 diambil dari “FUREAI NIHONGO” (2002)

Ilustrasi 1 diambil dari “FUREAI NIHONGO” (2002)

Ketika Anda bercerita dalam bahasa Jepang, Anda akan membuatnya dengan kata-kata yang Anda ketahui yang disusun dalam kalimat-kalimat pendek.Anda juga akan bercerita hanya hal-hal yang tampak dipermukaan atau tampak pada gambar itu saja. Tetapi ketika Anda membuat cerita dalam bahasa Indonesia atau bahasa Ibu, Anda mampu dengan luwes menceritakan apa yang ada dalam alam pikiran Anda. Kepuasan yang Anda rasakan tentu berbeda.

Seperti dipaparkan di muka, ketika Anda bercerita menggunakan bahasa Jepang, Anda hanya akan mengungkapkan secara langsung hal-hal yang muncul dalam gambar tersebut. Anda akan merasakan kesulitan pada waktu ingin mengungkapkan perasaan yang abstrak. Anda akan kesulitan ketika berusaha memaparkan alur peristiwa yang ada dalam pikiran Anda. Tetapi ketika Anda menggungkapkan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Ibu Anda, dengan luwes pula semua imajinasi dan perasaan-perasan tersebut Anda kemukakan. Masih banyak perbedaan yang dapat diungkapkan dari hal–hal tersebut.

Hal yang lain, Anda juga dapat mencoba mengutarakan apa yang ingin Anda sampaikan hanya dengan menggunakan verba, nomina, dan ajectiva. Setelah itu, utarakan seperti biasanya anda berbicara. Anda utarakan pula apa yang ingin anda sampaikan dalam bahasa Jepang dengan menyusun urutan Subyek, Predikat, dan Objek. Apa yang Anda rasakan setelah mencobanya?

Ternyata sulit menyampikan sesuatu hal bila dibatasi hanya menggunakan verba, nomina, ajektiva saja. Kalau Anda dapat menyaksikan wajah Anda pada saat melakukannya, Anda akan dapat melihat ketegangan pada wajah Anda. Sebaliknya, Anda akan merasa rileks ketika menyampaikan sesuatu tanpa dibatasi penggunaan kata-katanya. Apa lagi bahasa Jepang, unsur-unsur kalimat seperti ‘kata keterangan’, ‘partikel’, ‘verba bantu’, tidak dapat dilepaskan dari bagian kalimat.

Berikutnya cobalah Anda menyusun kalimat dengan satuan kategori gramatikal, subjek(S), predikat(V), objek(O). Betapa tegangnya otak Anda memikirkan dan menukarkan urutan pola kalimat ke dalam bahasa Jepang. Karena stuktur kalimat bahasa Jepang berpola subjek(S), objek(O), predikat(V).

Dari penjelasan di atas, yang dapat disimpulkan adalah betapa sulitnya menguasai bahasa Jepang tanpa menyusun strategi belajar yang baik dan benar. Betapa sulitnya pula menjadi nihongojin yang memiliki kompetensi komunikasi yang integrated. Oleh sebab itu, pemahaman budaya penutur asli akan sangat membantu meningkatkan pemahaman prinsip-prinsip speech acts bagi seorang pembelajar.

6. Dari Mana Lahirnya Kesalahpahaman

Untuk menganalisis asal mula terjadinya kesalahpahaman, ada baiknya penulis sajikan sebuah dialog dari sepasang remaja A dan B yang baru saja keluar dari sebuah gedung bioskop.

A: 「あの、ロマンテイックな海辺の風景よかったわね。遠くにぽっかり舟が浮かんでいてすてきだった」

(Emh, Indah sekali ya, pemandangan pantai yang romantik. Di kejauhan sebuah perahu terapung sangatlah indah)

B: 「えっ?舟が浮かんでったけ? それより、あの、ほら、あの主人公が乗っていた車、かっこうよかったなあ。あんな車乗りたいな」

(Apa? Perahu terapung!. Aku sih, tertarik dengan, itu lho, mobil yang digunakan oleh pemeran utamanya. Keren banget… Aku ingin punya mobil seperti itu)

A: 「えっ?あまり覚えていないけど」

(Ha ! Aku tidak begitu ingat)

AB:「・・・・・!」

(……………..! )

Dari percakapan 2 orang remaja di atas, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan kesan terhadap adegan, dan bagian film yang menarik perhatian mereka. Kita mengumpulkan bermacam-macam informasi melalui mata dan telinga. Secara tidak sadar, sebenarnya kita menyeleksi informasi tersebut. Demikian halnya terjadi pada 2 orang tersebut di atas. Satu orang tertarik pada perahu, dan satu orang lagi tertarik pada mobil yang digunakan pelaku utama dalam film tersebut. Beginilah dalam sebuah kehidupan, kesalahpahaman muncul dari “hal-hal yang terlihat di sekeliling kita”. Komunikasi tidak terbatas pada proses berbicara dan mendengar, melainkan termasuk bagaimana kita memberi pemaknaan terhadap informasi yang dikumpulkan dari luar. Araki dkk. (1995) menyebutkan bahwa, komunikasi adalah proses menata informasi dari data mentah yang muncul dari luar diri, yang menurut orang itu memiliki makna. Kemudian, Ia bertindak berdasarkan hasil tersebut sehingga dapat hidup beradaptasi dalam lingkungan yang beragam.

Lalu, bagaimana kita menerima informasi dari luar, dan memberi makna terhadap informasi tersebut? Mengapa dalam proses pemerolehan informasi terjadi kesalahpahaman?. Hasshiro dkk. (1998),(2001), telah mengembangkan pemikiran Berlo (1960) tentang konsep training interkultural. Training itu dinamakan DIE, yang merupakan singkatan dari kata Description (知覚), Interpretation (解釈), Evaluation(評価). Konsep ini salah satu training yang dapat dimanfaatkan ketika terjadi kesalahpahaman yang diakibatkan oleh kuatnya pemahaman terhadap salah satu unsur tersebut.

Perhatikanlah bagan urutan proses pemerolehan informasi berikut di bawah ini. Mengapa, kesahpahaman muncul dalam kegiatan komunikasi?

Bagan di atas adalah gambaran urutan proses pemerolehan informasi. Mula-mula, kita memperoleh informasi dari luar melalui pendengaran baik berupa suara atau bunyi. Informasi juga dapat diperoleh memalui penglihatan mata. Artinya, kita memperoleh informasi diawali dengan proses mendeskripsikan. Misalnya, “orang itu memakai baju merah”, “terdengar bunyi pesawat terbang”, dan lain-lain. Kemudian kita melakukan interprestasi terhadap informasi tersebut. Misalnya, “ada mobil sedang melaju”, “pesawat terbang sedang terbang”. Yang terakhir, kita melakukan evaluasi. Misalnya, “bising sekali”, “kelihatannya menyenangkan” dan lain-lain. Demikianlah, secara otomatis dan tanpa disadari kita menyeleksi dan memproses informasi melalui tiga tahapan yaitu DIE.

Konsep ini sangat penting untuk menganalisis, ketika ditemukan kejanggalan sikap, ketidakwajaran cara berpikir, dan keanehan tindakan pada seseorang. Bagi seorang guru, training DIE dapat diimplementasikan ketika mengidentifikasi karakteristik pembelajar dari segi fisik, sosial, moral, budaya, emosional, dan intelektual. Sehingga hasil dari analisis tersebut dapat menstimulasi cara berpikir pembelajar sesuai dengan tahap perkembangan kognitifnya.

7. Memahami Komunikasi Interkultural ?

Di bagian akhir tulisan makalah ini penulis ingin menjelaskan tentang komunikasi interkultural. Banyak orang beranggapan bahwa komunikasi interkultural terjadi pada orang yang berasal dari dua negara yang berbeda. Misalnya, orang Indonesia dengan orang Jepang. Akan tetapi, mari kita cermati percakapan berikut di bawah ini. Anda boleh menebak, siapa pelaku percakapan ini.

A.「どんなことが趣味ですか」

(Hobi Anda, apa?)

B.「バドミントンです。インドネシアではみんなこのスポーツをよくやりま す」

(Bulu tangkis. Orang di Indonesia semua melakukan olahraga ini)

A.「そうですか」

(Oh, begitu)

Kalau kita perhatikan, percapan di atas dapat dipastikan berlangsung antara orang Indonesia dengan orang dari luar Indonesia. Dari percakapan itu lahir komunikasi interkultural. Tetapi, interkultural tersebut tidak selalu tetap karena akan berubah berdasarkan situasi dalam percakapan. Perhatikan kelanjutan percakapan berikut ini.

B.「あなたはスポーツをやりますか」

(Anda suka olah raga)

A.「えっ?私ですか。ええ、ダンスを最近始めたばかりです。結構面白いです。男の人はあまりやらないかもしれないけど、どうですか」

(Ha!, Saya?. Ya, Saya baru saja memulai belajar dansa. Lumayan menyenangkan. Tapi, mungkin bagi laki-laki kurang menarik. Bagaimana, Anda suka dansa?)

Kalau Anda memperhatikan dan mencermati bagian-bagian percakapan di atas, kira-kira menurut Anda percakapan tersebut terjadi antara orang seperti bagaimana?. Dilihat dari kelanjutan percakapannya, dan dari bagian kalimat yang diucapkan A yaitu「男の人はあまりやらないかもしれないけど」, dapat ditafsirkan bahwa percakapan tersebut terjadi antara “perempuan yang sedang menjelaskan sesuatu kepada laki-laki”. Hal ini menandakan terjadinya interkulturalisme antara laki-laki dan perempuan.

Pendek kata, komunikasi interkultural bukan diartikan karena terjadinya percakapan antara “orang Indonesia dengan orang Jepang” atau “antara laki-laki dengan perempuan”, tetapi dapat terjadi di dalam kondisi percakapan itu sendiri. Tentu saja ada komunikasi yang tidak mengandung interkulturalisme meskipun terjadi percakapan baik menggunakan bahasa asing ataupun bahasa ibu sendiri. Sebab itulah dalam pendidikan bahasa Jepang perlu sekali mencermati setiap kegiatan percakapan karena disitulah banyak muncul hal-hal yang menarik terutama yang terkait dengan komunikasi interkultural.

Dalam komunikasi interkultural sering muncul “kekhawatiran”. McCroskey, J.C, (1982), menamakan hal ini sebagai Communication apprehension atau kekhawatiran komunikasi. Menurut Klop & Cambra (1979), kekhawatiran orang Jepang ketika melakukan kominikasi menduduki persentase cukup tingi dibandingkan orang Korea dan orang Tionghoa. Angket tentang “kemampuan komunikasi diri sendiri”, membuktikan pernyataan tersebut. Kemampuan komunikasi orang Jepang, berdasarkan hasil angket, yang menjawab positif hanya 39% selebihnya menjawab negatif. Sedangkan komunikasi mahasiswa asing yang menjawab positf adalah 66%. Jadi, Communication apprehension orang Jepang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa asing yang melakukan komunikasi menggunakan bahasa Jepang.

Kondisi seperti ini perlu mendapat perhatian, karena pengaruhnya sangat besar terhadap pemilihan strategi komunikasi interkultural dengan penutur asli bahasa Jepang. Pada akhirnya kita dapat menghindari berbagai kesalahpahaman yang disebabkan perbedaan budaya di antara peserta komunikasi.

Ada lagi sebuah training interkultural untuk menganalisis kesalahpahaman atau gokai, yaitu dengan pengasimilasian budaya, Culture Assimilator. Cara ini adalah sebuah Attribution training dengan belajar mengintrerprestasikan terjadinya peristiwa yang menyebabkan suatu kejadian, dilihat dari kacamata lawan komunikasi yang memiliki latar belakang budaya berbeda. Realisasi dari training ini adalah pertanyaan tentang sebab-sebab terjadinya kesalahpahaman dalam komunikasi interkultural. Kemudian terhadap pertanyaan itu disediakan pilihan jawaban dan penjelasannya.. Misalnya, digambarkan “kejadian antara mahasiswa Indonesia yang makan bersama-sama orang Jepang. Ia kaget pada waktu selesai makan masing-masing harus membayar.” Kemudian, disediakan beberapa pilihan jawaban terhadap pertanyaan, “mengapa mahasiswa Indonesia merasa tidak tenang melihat sikap orang-orang Jepang tersebut?”. Misalnya, pilihan jawabannya adalah “karena dia menganggap dirinya sebagai mahasiswa asing yang kemungkinan dibayari”, “Karena dia mengira akan ada yang membayar dulu, kemudian ia membayar bagiannya kepada orang yang membayar tadi.”, “Karena yang mengajak adalah pembimbing, ia mengira dosen yang lebih seniorlah yang membayarnya”. Dari pilihan jawaban tersebut, dapat dipilih jawaban yang paling tepat, tetapi bukan cara untuk menyelesaikan terjadinya kesalahpahaman yang sesungguhnya. Yang perlu diperhatikan adalah proses interprestasi terhadap kejadian tersebut. Pilihan jawaban yang tepat tidak selalu mutlak benar, karena pada kenyataannya banyak pula hal yang berbeda dengan pernyataan tersebut.

8. Simpulan

Dari penjelasan di atas, penulis dapat mengambil simpulan sebagai berikut;

Kegiatan pembelajaran bahasa Jepang dewasa ini, disamping menitikberatkan pada 4 keterampilan berbahasa, perlu juga menekankan pada kemampuan pemahaman budaya penutur aslinya, termasuk sistem komunikasinya. Sehingga dalam kegiatan berbahasa, nihongojin benar-benar menerapkan prisip-prinsip tindak tutur bahasa Jepang yang tepat.

Nihongojin yang baik adalah nihongojin yang mampu memahami prinsip-prinsip komunikasi yang tepat. Komunikasi interkultural adalah salah satu dari model komunikasi yang penting untuk dipahami, karena komunikasi interkultural tidak hanya terkait dengan orang-orang dari negara yang berbeda tetapi terkait dengan bagaimana seseorang mengemas informasi atau messages yang akan diterima dan yang akan disampaikan.

Kesulitan berbahasa Jepang disamping disebabkan oleh faktor kebahasaan yang ada di dalamnya, juga disebabkan oleh sistem komunikasi yang dimiliki oleh penutur bahasa tersebut.

Perbedaan sistem komunikasi yang terdapat dalam suatu bahasa akan banyak menimbulkan kesalahpahaman tatkala para nihongojin kurang mampu mengelola informasi yang mereka terima. Konsep DIE dapat digunakan untuk mengelola informasi tersebut.

Komunikasi interkultural terjadi dalam berbagai wacana lisan. Dalam memahami komunikasi intercultural, wacana lisan menjadi penting untuk diamati.

Sesuatu hal yang lebih penting lagi, untuk memahami komunikasi interkultural adalah training dalam hal tersebut. Training seperti itu belum banyak dilakukan dalam proses pembelajaran bahasa Jepang, bahkan mungkin belum disentuh sama sekali. Oleh karena itu, gagasan ini mudah-mudahan dapat dijadikan bahan pemikiran untuk meningkatkan kualitas pendidikan bahasa Jepang di Indonesia.

Daftar Refferensi

1. Berlo, D. (1960) The Process of Communication. New York : Hotl, Rinehart and Winston, Inc.

2. Bugarsky, Ranko. (1985) Tranlation Across Culture : Some Problems with Terminologies dalam Kurt R. ed. (1985 : 159-163)

3. Catf ord, J.C. (1965) Linguistic Theory of Translation. London : Oxford University Press.

4. Djodjok Soepardjo. (1999) “Komunikasi dan Hubungan Personal Orang Jepang” dalam Budaya Jepang Masa Kini. Bintang.

5. John Baldoni. (2003) Great Communication Secrets of Great Leaders. McGraw-HillCompanies, New York Diterjehkan oleh Silvester Lintu. PT. Bina Ilmu Populer.

6. Gudykunst, W. &Kim, Y.Y. (1984) Communication with Strangers. Eddison Wesley Publishing Co.

7. Klop, D.W. & Cambra, R.E. (1979) Communicatoin apprehension among college students in America, Australia, Japan and Korea. Journal of Psichology, 102.

8. Luft, Joshep&Ingham, Harrington. (1955) The Johari Window: A Graphic Model of Interpersonal Awareness. Los Angeles: University of California Extension Office.

9. Nancy Bonvillain. (1993) Laguage, Culture, and Communication ~The meaning of Messeges~. Pearson Education LTD. London.

10. Neubert, Albert.(1985) Translation Across Language or Across Culture? dalam Scientific and Humanistic Dimension of Language. Kurt R. ed.

11. McCrorkey, J.C. (1982) Oral Communication apprehension: A reconceptualization. Communication Yearbook 6. Beverly Hills, Sage.

12. Miller, G. & Steinberg, M. (1975) Between People. Chikago: Science research Assosiates

13. Samover, L.A. & Porter, R.E. & Jain, N.C. (1981) Understanding Intercultural Cummunication. Wadsworth.

14. DC. バーンランド(1979)『日本人の表現構造公的自己と私的自己アメリカ人との比較』(西山千訳)サイマル出版会

15. 石井敏・岡部朗一・久米昭元編(1987)『異文化コミュニケーションー新・国際人への条件』有斐閣

16. 慶三郎丸山(1995)『言葉とは何か』棗書房

16. 徳井厚子(2002)『多文化共生のコミュニケーションー日本語教育の現場から』アルク

17. 八代京子・町恵理子・小池活子・磯貝友子(1998)『異文化トレーニングボーダレス社会を生きる』三修社

18. 八代京子・荒木晶子・樋口容視子・山本志郎・コミサロフ貴美(2001)『異文化コミュニケーションワークブック』三修社

19. 吉田禎吾(1987)「文化」石川栄吉他編『文化人類学辞典』弘文堂

20. 渡辺文夫(1995)『異文化接触の心理学その現状と理論』川島書店

October 21, 2008

Hello world!

Filed under: Uncategorized — soepardjo @ 8:55 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Create a free website or blog at WordPress.com.